Opini

Opini: Magang ke Jepang

Perawat kita tangguh, adaptif, dan secara budaya memiliki empati tinggi, sesuatu yang sangat dihargai di Jepang. 

Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PRIMA TRISNA AJI
Prima Trisna Aji 

Lima jenjang Pendidikan D3, S1, Profesi Ners, S2, hingga Spesialis KMB dibangun bukan hanya demi akreditasi, melainkan untuk menciptakan ekosistem keilmuan yang sanggup berdiri setara dengan lembaga internasional.

Ketika Kaprodi S1 Ilmu Keperawatan Machmudah menyebut bahwa banyak lulusan UNIMUS telah bekerja di luar negeri, saya melihat itu bukan sebagai klaim, tetapi sebagai indikator bahwa institusi ini punya tradisi melahirkan perawat yang siap bertarung secara global.

Lalu hadir Kaprodi Profesi Ners, Mariyam, yang menegaskan bahwa tahap wawancara oleh Suenoba adalah gerbang awal menuju standar layanan kesehatan Jepang—salah satu yang terbaik di dunia. 

Ini pengakuan bahwa mahasiswa tidak diperlakukan sebagai penonton, tetapi sebagai calon aktor utama dalam sistem kesehatan internasional.

Perawat Indonesia: Di Mana Martabat Itu Ditempatkan?

Opini ini tidak lengkap tanpa menyinggung kenyataan pahit: tenaga kesehatan Indonesia sering kali direduksi sebagai “pekerja murah” di luar negeri. Stigma itu bukan hanya tidak adil itu salah besar.

Perawat kita tangguh, adaptif, dan secara budaya memiliki empati tinggi, sesuatu yang sangat dihargai di Jepang

Namun, selama ini mereka kurang mendapat dukungan institusional untuk menembus standar global.

Program internship UNIMUS Semarang dan Suenoba Jepang  memberikan sesuatu yang selama ini hilang: pengakuan internasional terhadap kompetensi anak bangsa sebelum mereka “dilempar” ke dunia kerja global. Dan itu adalah bentuk martabat yang sesungguhnya.

Tantangan Tidak Hilang, Tapi Kita Sudah Memulai

Kita tetap harus jujur: internship ke Jepang bukan tiket emas. Ada tantangan besar bahasa, adaptasi budaya kerja, jam kerja panjang, hingga kedisiplinan super ketat. 

Tetapi justru di sinilah perguruan tinggi berperan memastikan mahasiswa tidak menghadapinya sendirian.

Kerja sama seperti ini harus menjadi role model bagi kampus kesehatan lainnya: internasionalisasi bukan hanya mengundang narasumber dari luar negeri, tetapi membangun ekosistem mobilitas yang terstruktur, aman, dan berkelanjutan.

Harapan untuk Generasi Perawat Indonesia

Ketika saya melihat para mahasiswa UNIMUS Semarang duduk menunggu giliran wawancara, saya sadar: inilah representasi masa depan tenaga kesehatan Indonesia. 

Tidak lagi berkutat pada narasi “tenaga kerja asing”, tetapi narasi “kompetensi global”.

Indonesia memiliki lebih dari cukup potensi untuk menjadi eksportir tenaga kesehatan profesional terbesar di Asia. 

Tapi itu hanya dapat terjadi bila perguruan tinggi berani memulai langkah-langkah konkret seperti yang dilakukan UNIMUS.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved