Opini

Opini: Darurat Integritas di Dunia Pendidikan 

Sekitar 78 persen sekolah dan 98 persen kampus masih menjadi ladang subur bagi praktik menyontek, dan 43 persen kampus disusupi plagiarisme.  

|
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI KOMPAS/KORNELIS KEWA AMA
Yahya Ado 

Di tingkat perguruan tinggi, penggunaan alat pendeteksi plagiarisme harus menjadi standar wajib sebelum mahasiswa mengumpulkan tugas atau karya ilmiah.

Kita juga perlu memastikan pendidikan antikorupsi yang partisipatif. Pendidikan antikorupsi tak cukup disampaikan secara normatif. 

Diperlukan pendekatan berbasis pengalaman dan partisipasi, seperti simulasi kasus, diskusi kelompok, hingga proyek kampanye sosial.  

Pendekatan berbasis nilai dan kesadaran akan lebih kuat membentuk karakter ketimbang sekadar pendekatan kepatuhan melalui aturan-aturan.

Dan yang paling penting, keterlibatan orang tua dan komunitas dalam praktik kejujuran dalam hidup. Kultur integritas hanya bisa dibangun jika didukung ekosistem yang lebih luas. 

Sekolah perlu melibatkan orang tua dalam diskusi tentang kejujuran, serta menjalin kemitraan dengan komunitas lokal untuk memberi penghargaan pada siswa dan guru berintegritas. 

Kolaborasi ini akan memperkuat pesan bahwa integritas adalah nilai bersama, bukan hanya milik lembaga pendidikan. Satu anak harus dididik oleh satu kampung. 

Alhasil, integritas bukan sesuatu yang diajarkan. Ia diteladankan dan dilatih dalam tindakan kecil sehari-hari. 

Tidak mencontek saat ujian, hadir tepat waktu, mengakui kesalahan, mengerjakan tugas dengan jujur, adalah benih-benih kecil yang jika ditanam terus menerus akan tumbuh menjadi kebiasaan, lalu menjadi budaya. 

Ini bisa dimulai dan ditiru dari pendidikan usia dini yang lebih mengutamakan pendidikan karakter. 

Untuk itu, jika kita benar-benar ingin memperbaiki  darurat integritas di dunia pendidikan hari ini, mari mulai dari hal yang paling dasar: menjadikan sekolah dan kampus sebagai “taman kejujuran”. 

Sebab tanpa integritas, pendidikan hanyalah proses mencetak generasi cerdas tanpa arah-tujuan, anak pintar tanpa rasa tanggung jawab, dan siswa/mahasiswa hebat tanpa memiliki hati nurani. 

Indonesia dan kita, perlu mereformulasi pendidikan yang lebih bahagia dan berdaya. (*) 

Simak terus artikel POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved