Opini
Opini: Redefenisi Tanah Air dan Sumpah Pemuda
Kini memasuki tahun 2025, warisan ikrar ini menghadapi tantangan terbesar dan paling eksistensial, yaitu krisis iklim.
Sebagai kelompok yang akan menanggung beban terberat dari kegagalan mitigasi iklim, pemuda secara moral berhak menuntut tindakan radikal hari ini.
Hal ini tercermin dalam gerakan yang tidak hanya menargetkan pemerintah, tetapi juga sektor finansial.
Pemuda Indonesia mulai menyuarakan desakan agar lembaga perbankan dan investor menghentikan pendanaan pada proyek-proyek energi kotor, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara, dan mengalihkan modal ke investasi hijau.
Tekanan politik dan ekonomi yang dilakukan oleh generasi muda memastikan bahwa komitmen iklim bukan hanya retorika di konferensi internasional, tetapi diterjemahkan menjadi perubahan nyata dalam alokasi anggaran dan pembangunan infrastruktur.
Lebih dari sekadar advokasi di tingkat elit, wujud konkret kecintaan pada "Tanah Air" diejawantahkan melalui aksi akar rumput (grassroots action) yang tersebar di seluruh nusantara.
Di berbagai pulau, inisiatif pemuda berfokus pada restorasi terumbu karang, program konservasi mangrove, hingga pengembangan model pertanian berkelanjutan dan kearifan lokal yang tahan iklim.
Gerakan ini menciptakan pergeseran budaya mendasar dari pola pikir eksploitatif menuju pola pikir pengasuhan (stewardship).
Pemuda memahami bahwa menjaga ekosistem lokal, dari hulu hingga hilir, adalah cara paling otentik untuk menghormati ikrar Sumpah Pemuda.
Melalui aksi-aksi ini, mereka secara de facto mempraktikkan "Satu Tanah Air" sebagai entitas hidup yang harus dirawat bersama.
Sumpah Pemuda 2025 adalah seruan untuk bertindak, didasarkan pada kesadaran bahwa "Tanah Air" bukanlah milik masa lalu, tetapi pinjaman dari generasi mendatang.
Urgensi krisis iklim menuntut pemuda untuk mengambil alih narasi pembangunan, memastikan bahwa setiap kebijakan dan setiap tindakan sehari-hari didasarkan pada prinsip keberlanjutan.
Hanya melalui aksi kolektif dan inklusif yang digerakkan oleh pemuda, janji Sumpah Pemuda akan tetap relevan dan bermakna: melindungi Tanah Air agar Bangsa Indonesia tetap dapat eksis. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Inosensius-Enryco-Mokos1.jpg)