Opini
Opini: Redefenisi Tanah Air dan Sumpah Pemuda
Kini memasuki tahun 2025, warisan ikrar ini menghadapi tantangan terbesar dan paling eksistensial, yaitu krisis iklim.
Gerakan Pemuda dalam Isu Keberlanjutan
Jika Sumpah Pemuda 1928 adalah katalisator untuk kemerdekaan politik, maka Sumpah Pemuda 2025 harus menjadi katalisator untuk kemerdekaan ekologis.
Indonesia saat ini menikmati bonus demografi, dengan pemuda (usia 16–30 tahun) sekitar 25 persen dari total populasi.
Kelompok usia produktif dan berpendidikan inilah yang memiliki modal sosial, energi, dan jangka waktu terpanjang untuk menghadapi konsekuensi perubahan iklim.
Semangat "Satu Nusa" dan "Satu Bangsa" diterjemahkan menjadi kolaborasi tanpa sekat geografis dan sosiologis untuk tujuan keberlanjutan.
Pemuda saat ini tidak perlu lagi melawan penjajah asing, melainkan melawan ketidakpedulian, praktik bisnis yang merusak, dan kebijakan yang tidak pro-lingkungan.
Tanggung jawab ini terwujud dalam beberapa bentuk. Salah satunya adalah melalui advokasi kebijakan, di mana pemuda semakin aktif mendesak pemerintah dan korporasi untuk beralih ke energi terbarukan.
Mengingat komitmen Indonesia dalam Nationally Determined Contribution (NDC) untuk mengurangi emisi, peran pemuda dalam memonitor dan mendesak akuntabilitas implementasi NDC, serta mempercepat transisi energi dari batu bara ke sumber daya hijau, menjadi sangat penting.
Bentuk lain dari kontribusi pemuda adalah melalui inovasi dan ekonomi sirkular. Anak-anak muda memimpin dalam pengelolaan sampah dan polusi plastik.
Data menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah satu kontributor sampah plastik terbesar ke laut.
Pemuda di berbagai daerah merancang solusi teknologi untuk daur ulang, mengembangkan material berkelanjutan, dan membangun sistem ekonomi sirkular yang menciptakan nilai dari limbah.
Selain advokasi dan inovasi, literasi dan edukasi lingkungan juga menjadi kunci.
Pemuda menggunakan "Satu Bahasa" bahasa digital dan bahasa ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang isu-isu kritis seperti ketahanan pangan berbasis iklim dan pentingnya restorasi ekosistem.
Dengan memanfaatkan platform digital untuk menyebarkan informasi akurat, melawan misinformasi iklim, dan memobilisasi aksi massa.
Urgensi gerakan pemuda ini berakar pada prinsip keadilan antargenerasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Inosensius-Enryco-Mokos1.jpg)