Senin, 4 Mei 2026

Opini

Opini: Menyoal Rendahnya Indeks Pembangunan Manusia di Nusa Tenggara Timur

Teori dependensia misalnya, menyoroti bagaimana ketergantungan daerah pinggiran pada pusat membuat pembangunan tidak merata. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI APRIANUS P TABOEN
Aprianus Paskalius Taboen 

Oleh: Aprianus Paskalius Taboen, S.Pd., M.Si
Dosen Sosiologi FISIP Universitas Nusa Cendana Kupang, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM - Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi tolok ukur penting dalam menilai kualitas pembangunan, karena mencerminkan kesejahteraan manusia, bukan hanya pertumbuhan ekonomi.

BPS mengukur IPM melalui tiga dimensi yakni umur panjang dan hidup sehat (angka harapan hidup), pengetahuan (rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah), serta standar hidup layak (pendapatan per kapita yang disesuaikan).

Berdasarkan data BPS 2024, Nusa Tenggara Timur ( NTT) masih berada di peringkat bawah nasional dengan skor 67,39, sedikit di atas Papua dan Papua Pegunungan, namun jauh tertinggal dibanding DKI Jakarta (83,08) dan rata-rata nasional (74,39). 

Kesenjangan ini mencerminkan persoalan struktural mendasar dalam pembangunan daerah.

Membaca IPM dari Perspektif Sosiologi Pembangunan

Dalam kajian sosiologi pembangunan, pembangunan dipandang bukan hanya proses ekonomi, melainkan transformasi sosial yang melibatkan struktur, nilai, dan relasi kuasa dalam masyarakat. 

Teori dependensia misalnya, menyoroti bagaimana ketergantungan daerah pinggiran pada pusat membuat pembangunan tidak merata. 

Baca juga: IPM NTT Tahun 2023 Meningkat 1,14 Poin

Teori modernisasi menekankan pentingnya pendidikan, industrialisasi, dan perubahan nilai-nilai sosial sebagai jalan menuju pembangunan.

Sementara teori pembangunan berkelanjutan lebih menekankan keseimbangan antara aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.

Jika kita menempatkan NTT dalam kerangka ini, terlihat jelas bahwa rendahnya IPM tidak semata akibat keterbatasan sumber daya ekonomi, melainkan kombinasi antara keterbatasan infrastruktur, distribusi pembangunan yang timpang, rendahnya akses pendidikan berkualitas, serta faktor kultural yang masih membatasi mobilitas sosial masyarakat.

Dimensi Pendidikan, kunci yang Belum Terbuka

Rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Nusa Tenggara Timur (NTT) banyak dipengaruhi oleh faktor pendidikan. 

Data BPS NTT (2023) mencatat Rata-rata Lama Sekolah (RLS) penduduk usia ≥ 25 tahun hanya 7,82 tahun, setara kelas 1–2 SMP. 

Di Kabupaten Kupang lebih rendah lagi, yakni 7,42 tahun, sementara rata-rata nasional hampir 9 tahun.

Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved