Opini
Opini: Yohanes Pembaptis dan Affan Kurniawan
Ia berani menegur Herodes dalam kesewenangan moral. Yohanes tidak takut terhadap apapun, bahkan nyawa menjadi jaminan.
Oleh: Darvis Tarung
Tinggal di Seminari Hati Maria Kupang
POS-KUPANG.COM - Setiap tanggal 29 Agustus, Gereja Katolik memperingati Santo Yohanes Pembaptis.
Ia dikenal sebagai perintis jalan untuk Yesus Kristus, Sang Kebenaran sejati.
Ia dipenjarakan dan dibunuh oleh Herodes, dalam kaitannya dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes mengambilnya sebagai istri.
Atas kelakuan Herodes tersebut, Yohanes pun menegur Herodes, bahwasannya Herodes tidak halal mengambil Herodias menjadi isterinya.
Peristiwa ini membuat Herodias menaruh dendam pada Yohanes Pembaptis.
Yohanes dipenggal kepalanya atas perintah Herodes dan mengatasnamakan kekuasaan (Markus 6:14-29).
Baca juga: Opini: Antara Kesejahteraan Rakyat vs Kesejahteraan Wakil Rakyat
Bagi Umat Kristiani, sosok Yohanes Pembabtis merupakan seorang nabi yang sangat disegani.
Ia berani menegur Herodes dalam kesewenangan moral. Yohanes tidak takut terhadap apapun, bahkan nyawa menjadi jaminan.
Ia menyuarakan kebenaran meski ia tahu akibatnya. Ia menjadi simbol profetis, suara yang bergema dari padang gurun, menolak tunduk pada penguasa yang langgeng dalam kekuasaan yang korup dan sewenang.
Itulah gambaran seorang Yohanes Pembaptis di zaman kekuasaan Herodes.
Sejarah selalu menghadirkan peristiwa tentang mereka yang berjuang di garda terdepan melawan arus kekuasaan.
Sudah sejak awal manusia diciptakan telah tercatat dalam ayat-ayat kitab suci, pun pula terjadi hingga hari ini.
Media berita harian dan juga media sosial, menjadi sumber informasi tercepat dijaman ini, dengan sajian kilas peristiwa yang variatif.
Jeritan rakyat dan pesta sukacita para penguasa, turut menghiasi beranda media kabar harian.
Pengalaman Yohanes pembaptis di masa lalu, seolah kembali terjadi masa kini.
Berbagai media kabar dan juga media sosial ramai dengan isu terbaru di tanah air. Ada apa dengan negara kita?
Beberapa hari terakhir, aksi rakyat mencuat ke publik tat kala, kebijakan pemerintah tak lagi sejalan dengan hati rakyat.
Isu kenaikan gaji para anggota dewan menambah luka rakyat. Para dewan yang katanya wakil rakyat di parlemen, justru “menjajah” rakyatnya sendiri.
Pendapatan para anggota dewan dinaikan, sementara pada saat yang sama, rakyat kewalahan mencari kerja, dan bahkan ditimpah lagi dengan kenaikan pajak.
Rakyat melarat. Inikah yang dinamakan wakil rakyat, yang ujungnya “makan” rakyat sendiri? Aksi protes pun pecah.
Adalah tragis, satu dari sekian rakyat yang prihatin akan keadaan bangsa ini, harus dilindas bahkan nyawa melayang.
Seorang tukang ojek online yang bernama Affan Kurniawan, menjadi korban nyawa atas peristiwa ini.
Ia bukan seorang nabi, seperti Yohanes, pun pula bukan tokoh besar. Ia hanyalah seorang rakyat kecil yang sedang mengais rejeki demi kelangsungan hidupnya dan keluarganya.
Penghasilannya bukan Rp 100 juta per bulan, syukur-syukur kalau memenui kebutuhan harian.
Ia bersama rakyat yang lain, tergugah oleh nurani yang tersakiti, pecah dengan aksi gelombang protes atas kebijakan para dewan di parlemen.
Sungguh kebijakan yang dirasakan sebagai bentuk pengkhianatan dan “penjajahan” terhadap rakyat yang sedang terhimpit oleh keadaan ekonomi yang tidak stabil. Inilah wajah bangsa kita yang sedang Tabola Bale.
Pertanyaannya; mengapa suara kritik selalu dibungkam dengan cara brutal?
Di mana sebenarnya posisi aparat negara, apakah mereka ada untuk melindungi rakyat atau justru melindungi kepentingan penguasa?
Gas air mata membuat rakyat yang bersuara harus lari terbirit-birit. Tak cukup dengan gas air mata, rakyat sendiri dilindas oleh kendaraan aparat yang katanya mengayomi rakyat.
Ketika gas air mata dan kendaraan lapis baja digunakan menghadapi rakyat tak bersenjata, kita sedang menyaksikan pertunjukan betapa gelapnya nurani para penguasa, yang semakin jauh dari rasa empati terhadap rakyat yang melarat.
Mungkin ini adalah jawaban atas kegembiraan para anggota dewan yang penuh sukacita joget di parlemen hingga tabola bale di istana negara.
Disinilah kita melihat, kedua tokoh yang berani bersuara menjadi titik pijak pertanyaan kita; ada apa dengan para penguasa?
Yohanes Pembaptis meninggal karena keberaniannya menyuarakan kritik terhadap penguasa, dan Affan Kurniawan meninggal karena sistem yang menutup teliga dan membiarkan aparat menginjak rakyat sendiri. Miris Bukan?
Dulu, Yohanes Pembaptis menjadi simbol profetis yang melawan tirani, sekarang Affan adalah simbol getir rakyat kecil menjadi korban yang tak sempat bersuara.
Kematian Yohanes Pembaptis dikenang dalam kitab suci, sementara itu kematian Affan mungkin hanya akan menjadi arsip berita yang perlahan dilupakan.
Namun dari keduanya menjadi sejarah bahwa “kebenaran tidak bisa dibungkam dan ketidakadilan selalu menuntut korban”.
Negara kita sedang tabola bale. Namun kita yang masih berduka atas kepergian Affan, dan sedang bersuara menuntut keadilan harus memastikan suara Affan dan rakyat lainnya tidak terkubur bersama tubuhnya yang pergi.
Ia adalah gambaran nyata penderitaan rakyat kecil yang kadang tak mampu melawan gas air mata.
Kita dipanggil untuk bersama menata masa depan bangsa, merenung dan merefleksikan perjalanan bangsa ini.
Kita mencita-citakan Indonesia emas, namun para pemegang kuasa menciptakan Indonesia cemas. Miris bukan? (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.