Opini

Opini: Societas Verbi Divini di Tanah Marapu

Pusat misi yang sebelumnya ada di Pakamandara dipindahkan ke Weetebula, yang bertahan hingga hari ini. 

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/PETRUS PITER
FOTO ILUSTRASI - Uskup Weetabula Mgr.Edmund Woga CSsR memimpin ibadat peletakan batu pertama pembangunan gedung Gereja Paroki Santa Maria Assumpta Homba Karipit di Kecamatan Kodi Utara, Sumba Barat Daya, Rabu 19 April 2023. 

Oleh: Br. Yohanes Mau,  SVD
Anggota Misionaris SVD Ruteng (IDR), bertugas di Tambolaka Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur

POS-KUPANG.COM -  Dalam hening yang panjang di tengah pergolakan para penjajah Belanda, dan Jepang, misionaris SVD membumikan iman di tengah umat yang hidupnya yang kental dengan Marapu sebagai agama tradisional. 

Hingga kini masih ada sisa-sisa Marapu yang bertahan dengan agama tradisionalnya.

Berdasarkan sejarah masuknya Gereja Katolik di Pulau Sumba, ada tiga kongregasi yang membangun dan mengembangkan iman umat, yaitu Societas Iesu (SJ), Societas Verbi Divini, (SVD) dan Congeratio Sanctissima Redemptoris (CSsR). 

Kongregasi SJ masuk di Sumba pada tahun 1889 di Pakamandara, Loura, Sumba Barat Daya. Di sinilah awal mula tersebarnya  warta Kristus yang membebaskan penduduk Pulau Sumba

Pada tahun 1898, Misionaris Jesuit meninggalkan Pulau Sumba karena medan yang berat. 

Jumlah umat Katolik yang ditinggalkan waktu  1054 jiwa. Sehingga sejak bulan November 1898- Juni 1921, masa kekosongan pengembalaan. Umat hidup tanpa gembala. 

Kemudian pada tanggal 12 Juni 1929- misi Sumba- Sumbawa menjadi bagian wilayah misi SVD yang berpusat di Ende dan dan dikunjungi oleh misionaris SVD setiap tahun atau tidak menetap.

Pada tanggal 21 Juni 1929, Misi Sumba- Sumbawa dibuka kembali secara resmi oleh Pater Limbrock, SVD. 

Pusat misi yang sebelumnya ada di Pakamandara dipindahkan ke Weetebula, yang bertahan hingga hari ini. 

Pater Limbrock, SVD adalah misionaris berkebangsaan Jerman yang mengajarkan umat di pulau Sumba membangun rumah dengan batu putih.

Pada tanggal 26 Mei 1957, misi Sumba- Sumbawa diserahkan kepada Misionaris Redemptoris dengan pusat misi di Jerman. 

Penyerahan dari SVD kepada CSsR ini dikarenakan SVD mengalami kekurangan tenaga misionaris untuk melanjutkan misi pelayanan di misi Sumba- Sumbawa. 

Jumlah umat yang ditinggalkan kala itu 9.500 jiwa untuk satu Dekenat Weetebula yang terdiri dari 5 paroki ( Hombakaripit, Kalembuweri, Waikabubak, Katikuloku, Waingapu, puluhan stasi, dan dua stasi di pulau Sumbawa. 

Tiga kongregasi tersebut merupakan perintis pertama perkembangan dan kemajuan iman umat di pulau Sumba ini. 

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved