Opini
Opini: Makin Merah Kerokan, Makin Parah Masuk Angin?
Semakin merah hasil kerokan, maka dianggap sebagai indikator yang menunjukkan semakin parah pada tingkat masuk angin tersebut.
Oleh : Prima Trisna Aji
Dosen prodi Spesialis Medikal Bedah Universitas Muhammadiyah Semarang
POS-KUPANG.COM - Setiap kali tubuh terasa meriang, pegal, atau masuk angin, banyak masyarakat Indonesia langsung mengambil langkah yang sudah diwariskan secara turun-temurun yaitu “kerokan”.
Sebuah koin, minyak kayu putih, dan dengan digarukkan ke punggung menjadi kombinasi yang diyakini mampu mengeluarkan angin dari dalam tubuh.
Semakin merah hasil kerokan, maka dianggap sebagai indikator yang menunjukkan semakin parah pada tingkat masuk angin tersebut. Namun, apakah benar seperti itu?
Secara medis, warna merah atau kebiruan pada bekas kerokan bukanlah indikator tingkat keparahan masuk angin, melainkan reaksi akibat pecahnya pembuluh darah kapiler kecil di bawah permukaan kulit.
Fenomena ini dikenal sebagai subcutaneous capillary rupture, yaitu perdarahan mikro akibat tekanan dan gesekan kuat saat proses kerokan.
Maka, semakin keras gesekan dan semakin sensitif kulit seseorang akan makin merah hasil kerokannya.
Namun begitu, mengapa tubuh sering terasa lebih ringan setelah dikerok? Penjelasannya bisa ditelusuri melalui efek relaksasi dan stimulasi saraf.
Saat kulit dirangsang oleh tekanan kerokan, tubuh melepaskan hormon yang bernama endorfin, zat kimia alami yang berfungsi meredakan nyeri dan menciptakan perasaan nyaman.
Sensasi hangat dan ringan tersebut bukan karena "angin keluar", melainkan karena respons tubuh terhadap stimulasi tersebut.
Kisah nyata datang dari seorang ibu dari daerah Jumapolo, Karanganyar Jawa Tengah yang mengerok anaknya saat mengalami demam.
Alih-alih membaik, beberapa hari kemudian muncul ruam, demam lebih tinggi, dan anak akhirnya harus dirawat karena infeksi virus.
Dokter menyatakan bahwa kerokan tidak disarankan untuk anak-anak yang sedang mengalami infeksi aktif, karena bisa menambah beban tubuh dan meningkatkan risiko komplikasi.
Fenomena ini semakin mengkhawatirkan saat kita melihat tren kerokan ekstrem di media sosial.
Beredar video viral tentang kerokan menggunakan benda tajam, logam berat, bahkan tutup botol, dikombinasikan dengan balsam panas secara berlebihan.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.