Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Kamis 26 Juni 2025, "Taat dan Setia Melakukan Kehendak Allah"

Sabda Tuhan itu pedoman menuju sukacita dan kepenuhan kebahagiaan hidup manusia. Dengan tekun membaca Kitab Suci dan mengamalkannya dalam hidup

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
Pater Fransiskus Funan Banusu SVD 

Renungan Harian Katolik
Kamis 26 Juni 2025
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
KUNCI MENGGAPAI KEPENUHAN HIDUP: TAAT DAN  SETIA MELAKUKAN KEHENDAK ALLAH
(Kej 16:1-12.15-16; Mzm 106:1-2.3-4a.4b-5; Mat 7:21-29)

"Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas wadas." (Mat 7:24). Hidup tidak selamanya terlepas dari kesulitan dan beban.

Dalam kondisi ketakberdayaan menghadapi payahnya memikul beban-beban kehidupan, kita hanya bisa mengandalkan kuasa Tuhan untuk menolong kita. Karena iman kita percaya bahwa kuasa Tuhan untuk meringankan beban-beban hidup itu datang dari Sabda dan kehendak Tuhan.

Sabda Tuhan itu pedoman menuju sukacita dan kepenuhan kebahagiaan hidup manusia. Dengan tekun membaca Kitab Suci dan mengamalkannya dalam hidup, kita akan memperoleh buah sukacita dan kebahagiaan hidup itu. Kepenuhan kebahagiaan umat beriman akan terwujud dalam Kerajaan Surga kelak.

Prosesnya sudah harus berlangsung kini dan di sini. Petunjuk Tuhan Yesus jelas bahwa untuk menggapai kebahagiaan surgawi adalah melaksanakan kehendak Allah dalam hidup yaitu berkorban dalam berbuat baik.

Yesus berkata, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, Tuhan, Tuhan!' akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku di Surga." (Mat 7:21). Semua keunggulan yang kita banggakan seperti bernubuat, mengusir setan dan melakukan mukjizat demi nama Tuhan pada akhirnya akan menjadi sia-sia, jika kita tidak manfaatkan untuk beramal kasih setiap saat dan melakukan keadilan di setiap kesempatan.

Fondasi hidup yang kuat-kokoh adalah sabda dan kehendak kudus Tuhan yang kita dengar dan amalkan dalam keseharian hidup kita. Semua ini hanya akan terlaksana di dalam diri kita ada kepercayaan, kesetiaan dan ketaatan terhadap kehendak Allah.

Kita hindari mental show iman yang bertujuan untuk prestise privat, pujian dan keangguhan. Apalagi memanfaat sesama untuk menggoalkan kepentingan terselubung lainnya. Masalah antara Sarai dan Hagar mengajak kita untuk bersikap kritis memosisikan diri dalam kebersamaan hidup kita.

Sikap sombong yang secara arogan kita tampilkan dalam perilaku yang kurang berkenan kepada sesama akan mendatangkan kesengsaraan bagi diri sendiri. Hagar diambil dan diberikan oleh Sarai kepada Abram untuk memperoleh keturunan baginya.

Namun si hamba ini berlaku tidak sopan bahkan menghina nyonyanya Sarai. Kata Abram kepada Sarai, "Hambamu itu di bawah kekuasaanmu, perbuatlah kepadanya sesuka hatimu." Lalu Sarai istri Abram menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya." (Kej 16:6).

Tindakan Sarai benar di mata Tuhan. Etika hidup mesti tetap dijaga untuk saling menghormati dan menghargai. Tidak memanfaatkan kesempatan untuk memanipulasi kenyataan demi menggapai kepentingan diri sendiri walau tidak benar.

Kendati pun demikian beruntung bahwa Allah masih membantu dan menolong Hagar melalui malaikatnya. Pemazmur bermadah dalam pujiannya, "Berbahagialah orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di setiap saat! Ingatlah akan daku, ya Tuhan, demi kemurahan-Mu terhadap umat." (Mzm 106:3-4a).

Bersikap teliti dalam melaksanakan kehendak Allah agar tidak terjebak dalam memanfaatkan kesempatan untuk membuat manipulasi dan berlaku tidak adil terhadap orang lain serta diri sendiri.

Jika manipulasi dan ketidakadilan tetap nekat dibuat maka hukuman pasti menanti sebab itu tidak sesuai dengan kehendak Allah. 

Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Kamis / Pekan Biasa XII / C, 260625)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved