Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Sabtu 21 Juni 2025, "Setia: Fokus Pada Satu Hal Terunggul dalam Hidup"

Setiap insan beriman bergumul hebat dalam memurnikan imannya akan Tuhan. Iman pada hakikatnya tidak bersifat instan.

Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/HO
Pater Fransiskus Funan Banusu SVD 

Renungan Harian Katolik
Sabtu 21 Juni 2025
Oleh: Pater Fransiskus Funan Banusu SVD
PW Santo Aloysius Gonzaga, Biarawan
SETIA: FOKUS PADA SATU HAL TERUNGGUL DALAM HIDUP 
(2Kor 12:1-10; Mzm 34:8-9.10-11.12-13; Mat 6:24-34)

"Maka carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Mat 6:33).

Setia pada Tuhan merupakan hal yang penting dalam hidup. Ketidaksetiaan menjadi penyebab utama keragu-raguan mengandalkan Tuhan dalam seluruh perjuangan hidup kita.

Keragu-raguan dalam iman tidak hanya melulu bersifat negatif namum menjadi elemen iman yang utama dalam hidup spiritual. Iman murni dan kebenaran sejati diperoleh setelah melewati berbagai tantangan, pencobaan yang hebat dalam hidup rohani.

Setiap insan beriman bergumul hebat dalam memurnikan imannya akan Tuhan. Iman pada hakikatnya tidak bersifat instan. Iman yang matang hanya bisa digapai melalui usaha yang keras secara rohani dalam beragam aktivitas spiritual. Semua upaya yang postif itu bertujuan untuk pemurnian diri kita yang terdampak hebat virus dosa.

"Orang yang murni hatinya akan naik ke gunung Tuhan  dan berdiri di tempat-Nya yang kudus." (Mzm 24:4.3). Komitmen yang kuat sering dikaburkan oleh keinginan dan kecenderungan yang tak teratur dalam kita masing-masing. Karena kodrat, kecenderungan dasar dalam diri manusia ialah mendua hati. Maka Yesus mengatakan dengan terus-terang, "Tidak ada seorang pun yang dapat mengabdi kepada dua tuan.

Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain. Kalian tidak dapat mengabdi kepada Allah dan Mamon." (Mat 6:24).

Fakta membuktikan bahwa banyak orang beriman lemah ketika berhadapan dengan kuasa dan uang. Komitmen iman seseorang juga akan cepat berubah ketika ditawari jabatan atau berada pada puncak suatu jabatan dan memiliki mamon. Kitab Suci mengingatkan kita bahwa Allah lebih penting dari mamon, harta, jabatan dan kuasa duniawi apa pun.

Hidup lebih penting daripada makanan dan tubuh lebih penting daripada pakaian. Pertobatan tetap dibutuhkan sepanjang zaman untuk proses hidup beriman yang lebih baik dan matang. Sebab buah hidup rohani yang unggul adalah tobat dan kekudusan. Kerapuhan dan kelemahan tak bisa kita sangkal sebagai bagian dari hidup kita.

Berserah dan membiarkan Allah ada dalam ketakberdayaan kita adalah sikap iman yang pantas. Dalam bahasa Santo Paulus, "Dalam kelemahan yang kita miliki, Allah menunjukkan kuasa-Nya." Hanya dalam kelemahan manusiawi, kuasa Allah menjadi sempurna.

"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2Kor 12:9). Pemazmur pun bermadah, "Takutlah akan Tuhan, hai orang-orang yang kudus, sebab orang yang takut akan Dia takkan berkekurangan.

Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari Tuhan tidak berkekurangan suatu apa pun." (Mzm 34:10-11). Mengakui kelemahan dan takut akan Tuhan menjadi sumber kekuatan orang beriman untuk tetap setia hingga menggapai hal yang terunggul dalam hidupnya yakni Kerajaan Allah. 

Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan berkatimu semua. (RP. FF. Arso Kota, Sabtu / Pekan Biasa XI / C, 210625)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved