Selasa, 21 April 2026

Opini

Opini: Destinasi Wisata Sumba, Masalah dan Pengelolaan

Masyarakat tidak hanya dididik berbahasa asing tetapi perlu sikap dan cara berinteraksi yang baik dan benar dengan orang lain teristimewa orang asing.

Editor: Dion DB Putra
DOK PRIBADI
Romo Polikarpus Mehang Praing, Pr 

Ada ungkapan kekecewaan wisatawan dalam video itu. Itu gambaran buruk, tidak menggembirakan atau tidak memuaskan bagi wisatawan tentang destinasi wisata di Pulau Sumba.

Kejadian yang viral ini harus menjadi kesempatan untuk menata pariwisata di Pulau Sumba

Pemerintah sebagai penentu kebijakan, perlu mengelola  pariwisata secara profesional. 

Sebagai ide; pertama, demografi. Ini penentu untuk membangun pariwisata. Perlu memahami penduduk atau masyarakat; populasi/jumlah, pengelompokannya; umur, pendidikan, pekerjaan, keahlian, persebarannya dan sebagainya. 

Penduduk merupakan pelaku pariwisata yakni pengelola dan wisatawan. Pertambahan penduduk yang disertai Sumber Daya Manusia yang baik menciptakan lingkungan yang beretika, pelayanan yang baik, kesejahteraan hingga timbul permintaan kebutuhan rekreasi yang disertai kemampuan membayar keinginan. 

Masyarakat tidak hanya dididik berbahasa asing tetapi perlu sikap dan cara berinteraksi yang baik dan benar dengan orang lain teristimewa orang asing. 

Dengan itu kebanggaan wisatawan menikmati Pulau Sumba bukan hanya indah dan mempesona tetapi nyaman dan menyenangkan. Kedua, Sumber Daya Alam. 

Pemerintah harus tahu bahwa industri pariwisata berkaitan dengan kekayaan alam (natural resources).

Alam adalah sumber daya tarik wisata yang paling unggul, diminati atau disukai.

 Pelestarian alam juga dinormakan atau dikelola karena tidak terbatas sebagai ladang bisnis yang menjanjikan namun ruang yang berkelanjutan. 

Misalnya hutan, perkebunan, pantai, gunung dan laut yang selalu ada dan abadi. Adakan attraction (atraksi) yakni alam diatur agar memiliki daya pikat atau menarik. 

Harus jelas tempat, alam, daerah atau wilayah yang dipakai, fokus dikelola atau dipromosikan sebagai tujuan wisata. 

Dengan itu terukur dan maksimal pengelolaan tempat wisata. Ketiga, ekonomi. Memahami bahwa industri pariwisata sumber devisa daerah atau negara. 

Pemerintah perlu memikirkan bukan hanya menciptakan lapangan kerja tetapi mempersiapkan masyarakat lokal; menjadi tour guide, bisa usaha kecil atau menjual tanaman lokal kepada wisatawan, bekerja di hotel, restoran, kafe dan lain sebagainya. 

Keempat, Sosial Budaya.  Pemerintah perlu memperhatikan budaya-budaya lokal; dipromosikan, dijaga, ditata dan dikembangkan. 

Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

Opini: Arsip

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved