Kamis, 23 April 2026

Konklaf 2025

Hasil Konklaf Tak Dapat Diprediksi, 80 Persen Kardinal Berasal dari Luar Eropa

Pertemuan kelima mereka pada Senin pagi (28/4/2025)  kemungkinan besar  menghasilkan keputusan mengenai tanggal konklaf. 

|
Editor: Dion DB Putra
VATICANNEWS.VA
PARA KARDINAL (ARSIP) - Para Kardinal mengambil bagian dalam Misa Krisma di Vatikan pada hari Kamis Putih 6 April 2023. Para kardinal dari seluruh dunia menggelar rapat hari ini, Senin (28/4/2025) untuk menetapkan tanggal pelaksanaan konklaf. 

Meski banyak mendapat dukungan luas, reformasinya juga memicu kemarahan di kalangan konservatif Gereja, terutama di Amerika Serikat dan Afrika.

Menurut Roberto Regoli, profesor sejarah dan budaya Gereja di Universitas Kepausan Gregorian, para kardinal akan mencari sosok pemimpin yang dapat membawa persatuan lebih besar di tengah polarisasi dalam Katolikisme. 

"Saya tidak membayangkan konklaf ini akan berlangsung dengan sangat cepat," kata Regoli.

Sejak wafatnya Paus Fransiskus, para kardinal telah mengadakan beberapa pertemuan untuk membahas persiapan pemakaman dan proses selanjutnya. 

Pertemuan kelima mereka pada Senin pagi (28/4/2025)  kemungkinan besar  menghasilkan keputusan mengenai tanggal konklaf

Beberapa ahli memprediksi konklaf dapat dilaksanakan pada 5 atau 6 Mei, beberapa hari setelah masa berkabung Paus yang berakhir pada 4 Mei 2025.

Kardinal Italia Giuseppe Versaldi mengatakan, “Ada suasana keterbukaan yang luar biasa. Meskipun ada perbedaan pendapat, suasana lebih spiritual ketimbang politik atau permusuhan.”

Konklaf kali ini melibatkan 252 kardinal, dengan 135 kardinal elektor yang memenuhi syarat memilih Paus baru karena berusia di bawah 80 tahun. 

Sebagian besar dari mereka ditunjuk oleh Paus Fransiskus, meskipun itu tidak menjamin mereka akan memilih sosok yang serupa. 

Proses pemungutan suara di Kapel Sistina akan dilakukan secara sangat rahasia dan mengikuti prosedur yang ketat. 

Setiap hari akan ada empat pemungutan suara, hingga satu kandidat memperoleh dua pertiga suara. 

Sebanyak 80 persen dari kardinal elektor berasal dari luar Eropa. Kardinal Dieudonne Nzapalainga dari Republik Afrika Tengah menyatakan, "Paus masa depan harus memiliki hati yang universal, mencintai semua benua. Kita tidak boleh melihat warna kulit atau asal usul, tetapi apa yang diusulkan".

"Kita membutuhkan pemimpin yang berani, yang tegas, yang mampu berbicara dengan jelas, dan memimpin Gereja dengan teguh, bahkan dalam badai ketidakpastian," jelas Kardinal Dieudonne. 

Sumber: Kompas.com

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved