Konklaf 2025
Hasil Konklaf Tak Dapat Diprediksi, 80 Persen Kardinal Berasal dari Luar Eropa
Pertemuan kelima mereka pada Senin pagi (28/4/2025) kemungkinan besar menghasilkan keputusan mengenai tanggal konklaf.
POS-KUPANG.COM, VATIKAN – Sebagaimana lazimnya, hasil konklaf tahun 2025 ini tak dapat diprediksi. Belum tentu nama kandidat yang telah beredar luas akan terpilih sebagai Paus penerus Paus Fransiskus.
Sementara itu, sebanyak 80 persen dari kardinal elektor berasal dari luar benua Eropa.
Kabar teranyar dari Vatikan menyebutkan, para kardinal pada hari ini, Senin (28/4/2025) akan rapat untuk menentukan tanggal konklaf.
Para kardinal yang merupakan pemimpin Gereja Katolik dari berbagai penjuru dunia telah berkumpul di Vatikan sejak Paus asal Argentina tersebut meninggal pada 21 April 2025.
Konklaf kali ini diprediksi melahirkan kejutan. "Saya yakin bahwa jika Fransiskus adalah paus yang penuh kejutan, konklaf ini juga akan demikian, karena sama sekali tidak dapat diprediksi," ungkap Kardinal asal Spanyol, Jose Cobo, dalam wawancara yang diterbitkan pada Minggu (27/4/2025).
"Dalam konklaf sebelumnya, Anda dapat melihat ke mana arahnya, namun kali ini banyak kardinal berasal dari luar Eropa dan beberapa bahkan belum pernah bertemu sebelumnya," jelas dia, dikutip dari AFP.
Paus Fransiskus dimakamkan pada Sabtu (26/4/2025) dengan upacara yang dihadiri kurang lebih 400.000 orang di Lapangan Santo Petrus dan sekitarnya, termasuk bangsawan, pemimpin dunia, serta peziarah biasa.
Pada Minggu (27/4/2025), ribuan orang berkumpul di Basilika Santa Maria Maggiore di Roma untuk melihat makam marmer Paus, yang memilih dimakamkan di luar tembok Vatikan.
Dengan ketegangan serta krisis diplomatik yang berlangsung di seluruh dunia, Kardinal Italia Pietro Parolin dianggap oleh banyak pihak sebagai kandidat utama untuk menggantikan Paus Fransiskus.
Bandar taruhan Inggris, William Hill, menempatkannya sedikit lebih unggul dibandingkan Luis Antonio Tagle, Uskup Agung Emeritus Manila, diikuti oleh Kardinal Peter Turkson dari Ghana.
Selain itu, ada nama-nama lain yang turut memperebutkan posisi ini, seperti Pierbattista Pizzaballa, Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Robert Sarah dari Guinea, dan Matteo Zuppi, Uskup Agung Bologna.
Pemilihan Paus yang tepat
Ricardo Cruz, seorang spesialis data asal Filipina, yang hadir untuk melihat makam Fransiskus pada Minggu (27/4/2025), mengungkapkan harapannya.
"Sebagai seorang Filipina, saya berharap paus berikutnya berasal dari Asia, namun sebagai seorang Katolik, saya hanya berharap kardinal memilih paus yang tepat," katanya.
Paus Fransiskus dikenal dengan upayanya menciptakan Gereja yang lebih inklusif dan penuh kasih.
Meski banyak mendapat dukungan luas, reformasinya juga memicu kemarahan di kalangan konservatif Gereja, terutama di Amerika Serikat dan Afrika.
Menurut Roberto Regoli, profesor sejarah dan budaya Gereja di Universitas Kepausan Gregorian, para kardinal akan mencari sosok pemimpin yang dapat membawa persatuan lebih besar di tengah polarisasi dalam Katolikisme.
"Saya tidak membayangkan konklaf ini akan berlangsung dengan sangat cepat," kata Regoli.
Sejak wafatnya Paus Fransiskus, para kardinal telah mengadakan beberapa pertemuan untuk membahas persiapan pemakaman dan proses selanjutnya.
Pertemuan kelima mereka pada Senin pagi (28/4/2025) kemungkinan besar menghasilkan keputusan mengenai tanggal konklaf.
Beberapa ahli memprediksi konklaf dapat dilaksanakan pada 5 atau 6 Mei, beberapa hari setelah masa berkabung Paus yang berakhir pada 4 Mei 2025.
Kardinal Italia Giuseppe Versaldi mengatakan, “Ada suasana keterbukaan yang luar biasa. Meskipun ada perbedaan pendapat, suasana lebih spiritual ketimbang politik atau permusuhan.”
Konklaf kali ini melibatkan 252 kardinal, dengan 135 kardinal elektor yang memenuhi syarat memilih Paus baru karena berusia di bawah 80 tahun.
Sebagian besar dari mereka ditunjuk oleh Paus Fransiskus, meskipun itu tidak menjamin mereka akan memilih sosok yang serupa.
Proses pemungutan suara di Kapel Sistina akan dilakukan secara sangat rahasia dan mengikuti prosedur yang ketat.
Setiap hari akan ada empat pemungutan suara, hingga satu kandidat memperoleh dua pertiga suara.
Sebanyak 80 persen dari kardinal elektor berasal dari luar Eropa. Kardinal Dieudonne Nzapalainga dari Republik Afrika Tengah menyatakan, "Paus masa depan harus memiliki hati yang universal, mencintai semua benua. Kita tidak boleh melihat warna kulit atau asal usul, tetapi apa yang diusulkan".
"Kita membutuhkan pemimpin yang berani, yang tegas, yang mampu berbicara dengan jelas, dan memimpin Gereja dengan teguh, bahkan dalam badai ketidakpastian," jelas Kardinal Dieudonne.
Sumber: Kompas.com
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
| Paus Leo XIV Terpilih, Umat Katolik Keuskupan Atambua Sambut dengan Doa dan Harapan |
|
|---|
| Vatikan: Robert Francis Prevost Paus Baru |
|
|---|
| BREAKING NEWS: Asap Putih dari Kapel Sistina, Pietro Parolin Dikabarkan jadi Paus |
|
|---|
| Hari Pertama Konklaf: Paus Baru Belum Terpilih, Perolehan Suara Kandidat Masih Minim |
|
|---|
| Konklaf 2025, Asap Hitam Keluar dari Kapel Sistina Vatikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/misa-krisma-di-Vatikan_004.jpg)