Dokter Diduga Lecehkan Pasien

Polisi Komunikasi ke Perempuan Korban Pelecehan Dokter yang Belum Mau Lapor

Perempuan korban pelecehan seksual dalam video rekaman CCTV yang viral di media sosial, hingga saat ini masih belum berani melapor ke Polisi

KOMPAS.COM/ARI MAULANA KARANG
KONFERENSI PES - Konferensi pers kasus pelecehan seksual oleh dokter kandungan di Garut, Kamis (17/5/2025) di Mapolres Garut. 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual dalam video rekaman CCTV yang viral di media sosial, hingga saat ini masih belum berani melapor ke aparat kepolisian meski aparat kepolisian sudah berkomunikasi dengan perempuan tersebut.

“Identitas sudah kami ketahui, kami sudah komunikasi untuk dapat melapor, namun yang bersangkutan menyampaikan yang pertama akan konsultasi dengan suami dan keluarga,” jelas Kapolres Garut, AKBP Mochamad Fajar Gemilang, menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers yang digelar di Aula Mapolres Garut, Kamis (17/4/2025) pagi.

Mochamad Fajar Gemilang menegaskan, pihaknya sangat mengerti pertimbangan dari korban, makanya pihaknya tidak bisa secara serta-merta membawa korban pada proses penyidikan.

Ilustrasi pelecehan seksual
Ilustrasi pelecehan seksual (Trubun Lampung/Dody Kurniawan)

Menurutnya, pihaknya hanya bisa mengimbau dan memberi jaminan perlindungan korban secara optimal.

“Ini yang patut diperhatikan dan jadi atensi, korban akan menjadi permasalahan pribadi ketika ini dibawa ke ruang publik. Kami menyadari itu, kami hanya bisa mengimbau dan menjamin hak-hak korban secara optimal,” kata Mochamad Fajar Gemilang. 

Baca juga: IDI Malang Raya Janji Jatuhkan Sanksi Keras terhadap Dokter Lecehkan Pasien

Mochamad Fajar Gemilang menegaskan penting bagi korban untuk melaporkan ke kepolisian karena itu menjadi bukti bahwa perbuatan pelaku merugikan orang lain dan korbannya pun ada. 

Selain itu, keberanian korban melapor juga bisa membangun kekuatan psikologi para korban lainnya.

Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Hendra Rochmawan menegaskan, kasus-kasus yang menimpa perempuan dan anak menjadi perhatian khusus karena perempuan dan anak memang rentan terhadap kekerasan baik secara fisik maupun psikis.

Karenanya, kasus-kasus ini menjadi perhatian Polda Jabar. 

Baca juga: Wamekes Tanggapi Dokter di Malang Diduga Lecehkan Pasien, Cederai Sumpah, Mencoreng Profesi!

Soal perlindungan bagi korban, Hendra Rochmawan pun meminta pegiat media sosial dan netizen bisa lebih bijak dalam bermedia sosial serta lebih bersimpati dan empati pada korban. 

Polda sendiri telah berupaya menghubungi pegiat media sosial yang mengeklaim menerima banyak laporan korban, namun tidak ada balasan.

“Pada media sosial yang telah meng-share, membuat konten berita dengan melebihkan suatu peristiwa dan banyak sekali yang merespon untuk melaporkan, ini juga telah kami lakukan komunikasi dengan DM (direct message), tapi sampai saat ini belum ada timbal balik,” kata Hendra Rochmawan. (kompas.com)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved