Paskah 2025
Refleksi Jumat Agung - Mengapa Tuhan Harus Menderita?
Mungkin sampai hari ini, masih ada banyak orang yang tetap bertanya, mengapa Yesus harus menderita?
Setiap tahun umat Kristiani memeringati Sengsara, Wafat dan KematianYesus. Hal ini sudah menjadi devosi setiap pengikut Kristus, yakni “devosi jalan salib”.
Seringkali orang kurang memperhatikan tatkala memeringati sengsara dan kematian-Nya, yakni Yesus dicobai dan diuji kesetiaan-Nya sama seperti manusia, hanya saja Dia tidak pernah berdosa.
Mungkin saja kebanyakan manusia tak bisa menangkap sepenuhnya bagaimana Allah dapat dicobai serta mau menangis dan mengeluh bahkan takut menghadapi maut. Dalam Matius 26:38, Yesus berkata: Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku (bdk. Mrk 14:34; Luk 24:41).
Rasa takut itu tentu saja merupakan bagian dari sisi kemanusiaan Yesus dan bukan sisi ke-Allahan-Nya. Sekalipun demikian, Ia tetap Allah dan sekaligus juga manusia yang menderita, sebab Dia adalah Allah yang mengosongkan diri dan mengambil rupa seorang hamba (bdk. Flp 2:7).
Ecce Homo (Lihatlah Manusia itu!)
Sebagai manusia, pada saat ini, Yesus amat menderita. “ECCE HOMO!”. Lihatlah manusia itu!” (Yoh 19:5) demikianlah Pilatus memperkenalkan Yesus kepada khalayak yang berseru-seru menuntut agar Ia harus dihukum mati.
Bisa dibayangkan bahwa kala itu darah-Nya membasahi seluruh tubuh-Nya akibat penderaan. Di kepala-Nya ada mahkota duri dan Ia mengenakan jubah ungu tanda penghinaan.
Di hadapan-Nya para musuh secara keji melancarkan tuntutan agar Ia disalibkan. Pilatus, sang penguasa dunia kala itu seakan tak berdaya dipermainkan oleh para pemimpin Agama Yahudi. Harapannya untuk membebaskan Yesus ditepis sebab ketika imam-imam kepala dan penjaga-penjaga itu melihat Dia, berteriaklah mereka: ‘salibkan Dia!, salibkan Dia! (Yoh 19:5-6).
“ECCE HOMO!”. Kata-kata Pilatus ini sebetulnya jauh melampaui apa yang sedang ia pikirkan saat itu, “lihatlah manusia itu!” Dialah Manusia yang harus menanggung semuanya. Dia harus mati dan Dialah Adam baru yang datang untuk memulihkan manusia pertama, Adam lama. Dialah yang menanggung segala kesalahan dan dosa manusia seperti yang dikatakan dalam Yes 53:4-5.
Pada saat ini, sebetulnya Yesus “sedang menangis”. Dia menderita dan menangis bukan karena beratnya salib yang Ia pikul, juga bukan karena banyaknya cambukan yang diterima-Nya.
Demikian juga, “Ia menangis” bukan karena hujatan manusia. Ia menangis karena di mana-mana masih terdapat begitu banyak kejahatan dan kekejian dalam hidup manusia.
“Dia menangis” karena hanya segelintir orang yang mau menderita dan memikul salibnya setiap hari. Dia juga “menangis” karena sedikit sekali orang yang mau menempuh jalan salibnya, dan hanya segelintir manusia yang mau berkorban untuk sesamanya. Dia pun “menangis” karena kesombongan, egoisme dan keserakahan manusia.
Salib dan Kesetiaan bersama Bunda Maria
Saat ini “Yesus menangis” dan “memohon untuk didengarkan”, namun apa yang terjadi, apakah manusia sering mau mendengarkan tangisan-Nya? Dia mengeluh rasa sakit karena olok-olokan ‘dunia’, akan tetapi apakah manusia mau turut menderita bersama-Nya.
Mungkin ada di antara para pengikut Yesus akan merasa sangat dekat dan menyatu dengan-Nya bahkan bisa turut merasakan penderitaan-Nya dalam hidupnya. Yesus yang dicobai, Dia yang “menangis”, “mengeluh” dan bahkan juga “takut” terhadap maut itu, sekarang menjadi “Pengantara manusia”.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.