Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Kamis Putih 17 April 2025, Kasih dan Kerendahan Hati Yesus In Coena Domini

Sejatinya Kamis Putih menandai akhir dari masa pra-Paskah, yang sudah dimulai sejak Rabu Abu

Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
FIDEL WOTAN - P. Fidel Wotan, SMM menulis Renungan Harian Katolik Kamis Putih 17 April 2025 tentang Kasih dan Kerendahan Hati Yesus In Coena Domini. 

Oleh: P. Fidel Wotan, SMM 
(Seminari Tinggi Montfort, “Pondok Kebijaksanaan”, Malang)

POS-KUPANG.COM - Pada hari ini, Gereja Katolik merayakan apa yang disebut dengan Kamis Putih, sebuah perayaan penting dan sangat konstitutif (conditio sine qua non [absolute[ly] condition) dalam kehidupan Gereja. 

Sejatinya Kamis Putih (Maundy Thursday/Giovedi Santo) menandai akhir dari masa pra-Paskah, yang sudah dimulai sejak Rabu Abu di mana puasa tobat wajib dihayati atau dilaksanakan umat Kristiani. 

Dengan diadakannya “Messa in Coena Domini” (Misa Malam Perjamuan Tuhan) Triduum Paskah dimulai, yaitu perayaan tiga hari suci di mana Sengsara, Kematian dan Kebangkitan Yesus diperingati dengan penuh khusuk, yang memiliki titik tumpunya dalam Vigil Paskah (Malam Paskah) yang khidmat dan diakhiri dengan vesperae kedua Minggu Paskah

Melalui tulisan ini, saya merefleksikan beberapa butir permenungan mengenai peristiwa suci nan agung yang dilaksanakan Yesus dua ribu tahun lalu bersama para murid-Nya dalam Malam Perjamuan Tuhan.

Perjamuan Malam Terakhir: Malam Suci bagi Yesus
Malam Perjamuan Terakhir adalah malam suci bagi Yesus. 

Dengan murid-murid-Nya pesta itu diadakan, semua tindakan dan perkataan yang diucapkan menjadi warisan bagi Gereja selama berabad-abad. Itu adalah “Perjamuan Tuhan,” saat di mana Yesus, melalui simbol roti dan anggur, mempersembahkan diri-Nya sebagai Imam, Altar dan Korban. 

Sebuah peristiwa yang sangat besar, luhur, dan mulia layak untuk dihidupkan kembali dalam kehidupan setia bagi setiap para pengikut-Nya. 

Melalui perayaan Kamis Putih (Giovedi santo/Maundy Thursday) setiap orang Kristen diundang untuk merenungkan misteri Kasih Allah yang tampak dalam diri Yesus yang mengadakan Perjamuan Malam Terakhir bersama para murid-Nya.

Malam ini adalah malam terakhir Yesus bersama para murid-Nya, menjadi semacam malam perpisahan dengan mereka. Kebiasaan seperti ini selalu dilakukan oleh kepala keluarga Yahudi kepada seluruh anggota keluarganya. 

Biasanya pada perjamuan perpisahan itu, sang kepala keluarga memberikan nasihat terakhir kepada anggota keluarganya untuk tetap dikenang dan dilaksanakan. 

Seperti inilah, Perjamuan Malam Terakhir Yesus bersama para murid-Nya bisa dipahami. Sebagai Kepala dari para murid-Nya, Dia ingin sekali lagi mengadakan malam keakraban penuh persaudaraan dengan mereka sebelum menderita sengsara dan wafat di kayu Salib. 

Pada perjamuan itu, Yesus ingin menunjukkan suatu sikap yang harus diteladani oleh para murid-Nya. Dengan makan bersama, Dia ingin menyerahkan diri-Nya secara total kepada mereka.  

Perjamuan malam terakhir bersama murid-murid-Nya menjadi simbol penyerahan hidup-Nya yang total, di mana Ia ingin memberikan Tubuh-Nya sebagai makanan dan darah-Nya sebagai minuman demi keselamatan para murid-Nya dan semua pengikut-Nya.

Membasuh Kaki: Tanda Kasih dan Kerendahan Hati
Injil Yohanes, dalam pasal 13, menceritakan sebuah episode monumental dalam sejarah hidup seorang dari Nazaret, Yesus, Putra Maria, yakni “pembasuhan kaki”. Penulis Injil keempat mengatakan bahwa sama seperti Yesus senantiasa mengasihi murid-murid-Nya demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya. 

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved