Uskup Petrus Turang Wafat
Opini: Uskup Turang, Sang Gembala Pemberdayaan Masyarakat
Saya tulis sebagai penghargaan kepada beliau, sang gembala yang memberi keteladanan pada komitmen teristimewa bagi yang miskin.
Kita berkeyakinan daya hidup umat Katolik terletak pada basisnya (KBG) dan pembaruan gereja harus berasal dari basis. Gereja tidak dapat menjalankan misi pelayanannya tanpa bersifat setempat.
Gereja hanya menjadi gereja bila berkomunikasi secara inkarnatoris atau mendarah daging dalam suatu bangsa dan kebudayaannya dalam konteks kemanusiaannya.
Pola komunikasi inkarnatoris ini dapat membebaskan manusia dalam konteks hidupnya antara lain kemiskinan.
Semangat dasar yang mendorong dan mendasari kegiatan Gereja dalam pewartaan adalah Inkarnasi yakni sabda menjadi daging dalam mana Allah yang menjelma menjadi manusia. Allah telah mewahyukan diri-Nya di dalam diri Yesus Kristus.
Ia adalah Allah yang memberi diri kepada manusia dan berbicara serta berhubungan dengan manusia dalam konteks kemanusiaannya. Yohanes penginjil menulis “Pada awal mula adalah sabda, dan sabda adalah Allah” (Yoh.1,1 dan 14).
Selama Ia ada di antara kita di dunia, Ia telah mewahyukan diri sebagai komunikator. Ia telah menyampaikan pesan Ilahi dengan kata-kata dan dengan tindakan hidupNya.
Dengan keyakinan tersebut maka komunitas basis muncul dari bawah, pola komunikasinya pun bertolak dari akar rumput, dialogis diskursus, bukan dari aparatus hirarkis semata yang monologis feodalistis.
Hal ini menjadi satu hal yang sangat bertentangan dengan struktur hierarki Gereja katolik yang sangat sentralistik dengan pola komunikasi top down. Setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan Gereja Katolik berasal dari atas (pusat).
Organisasi yang memiliki tingkat sentralisasi paling tinggi adalah Gereja Katolik.
Keputusan di tingkat paling bawah tidak boleh terlepas dari keputusan Paus di Roma, hal ini berlaku untuk seluruh penganut agama Katolik yang berpusat di Roma.
Kita berkeinginan mengembangkan komunitas basis dengan pola komunikasi yang dialogis, tetapi kesulitan utama yang kita hadapi saat ini adalah tidak adanya pemahaman atau definisi baku mengenai komunitas basis dengan pola komunikasi yang menyertainya.
Sering nampak komunikasi aparatus gereja bersifat monologis feodalistis. Kita saksikan komunikasi atau propaganda pemerintah dan kaum pengusaha memperlakukan manusia sebagai komoditi, mendominasi, menindas, mengeksploitasi.
Lalu dikokohkan oleh tema komunikasi iman dalam khotbah yang bernada menggurui (moralistis). Juga khotbah yang coba meyakinkan orang kecil bahwa mereka miskin karena kesalahannya sendiri, karena kurang pendidikan, keterampilan dan berinisiatif, karena budaya asli mereka ketinggalan.
Atau menurut kitab suci karena patah semangat, pasrah, tunduk pada takdir adalah sikap-sikap kafir.
Pesan Komunikasi Pemberdayaan
Dalam konteks NTT kita perlu komunikasi pemberdayaan dengan pesan mendasar yang membangun dan membebaskan masyarakat NTT dari kemiskinan dan ketertindasan antara lain sebagai berikut.
Pertama, perdagangan manusia (Human Trafficking). Manusia dieksploitasi secara ekonomis, ditindas secara struktural dan dimarginalkan secara sosial, atau manusia bukan lagi dipandang sebagai pribadi yang memiliki hak dan martabat.
Pesan komunikasi pemberdayaan yang dibangun bahwa manusia semartabat dengan Allah, segambar dengan Allah.
Kedua, kekerasan terhadap perempuan dan anak. Terjadi pelbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Pesan komunikasi pemberdayaan yang mau ditanamkan ialah manusia entah anak, dewasa entah laki-laki dan perempuan diciptakan seturut gambaran Allah. Keunikan prempuan harus dihargai.
Ketiga, konflik sekitar tanah. Ada perang tanding antarkampung dalam perebutan tanah. Tanah dimiliki ketua suku, warga lain hanya penggarap.
Adanya penguasaan tanah secara legal oleh penguasa dan pemodal namun tak adil. Perangkat kultural kehilangan orientasi atas tanah. Masyarakat agraris nyaris tak punya tanah. Minim sumber daya alam.
Pesan komunikasi pemberdayaan dalam situasi ini ialah tanah adalah anugerah Tuhan, sumber hidup untuk semua manusia, perlu dimiliki secara adil dan dihormati.
Keempat, gereja dan kekuasaan. Banyak pemimpin menyalahgunakan kekuasaan. Terdapat korupsi dan indikasi KKN dalam pemerintahan, dana pembangunan untuk rakyat dimakan penguasa.
Pesan komunikasi pemberdayaan yang dibangun: kekuasaan yang ada adalah pemberian Tuhan demi kesejahteraan umum.
Kelima, pengungsi-perantau-pergi melarat. Migrasi tenaga-tenaga terdidik ke luar wilayah (ke Jawa dll). Pengungsi-perantau berada dalam situasi keterasingan, orang melarat, miskin, sulit mengatur hidup dan tidak aman.
Pesan komunikasi pemberdayaan: perhatian dan pelayanan perlu diberikan, mereka adalah saudara-sauadari kita dalam kesulitan.
Kalau ada yang sudah pintar dan maju punya kapital material-sosial-politik jangan lupa solidaritas dengan kampung halaman, seperti Yesus kembali ke Nasaret dan berkembang dengan suburnya. Atau contohi orang Minang punya gerakan Seribu Minang?
Keenam, iman dan kebudayaan. Kebudayaan dianggap kafir, kuno, mau dilepaskan. Pesan komunikasi pemberdayaan yang dibangun: Sabda telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita, bumi dan budaya adalah kekayaan untuk bertemu Tuhan.
Ketujuh, iman dan ekonomi (koperasi). Gereja Katolik tetap terlibat dalam perjuangan berkoperasi dengan mendirikan koperasi dan gerakan sosial-ekonomi sebagai bentuk solidaritas terhadap kemiskinan masyarakat/umat.
Terbukti koperasi telah membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan. Pesan komunikasi pemberdayaan yang dibangun adalah solidaritas, "kamu harus memberi mereka makan. Kumpulkan yang ada padamu.”
Kedelapan, Gereja dan lingkungan hidup. Gereja Katolik mengajak umat Katolik peduli terhadap lingkungan hidup.
Pesan komunikasi pemberdayaan yang dibangun: Lingkungan hidup adalah amanah Tuhan yang harus dipelihara manusia. Semua ciptaan berharga dan cerminan keagungan Allah.
Gereja perlu mengkomunikasikan pentingnya kelestarian dan pengelolaan lingkungan hidup.
Atas cara tertentu Uskup Turang telah berusaha membangun pesan pemberdayaan masyarakat lewat pelayanan pastoralnya. Mendiang telah bersaksi membangun gereja yang solider dengan yang kecil, miskin.
Terima kasih berlimpah Bapak Uskup Petrus Turang. Perkataanmu telah menggerakkan dan teladan hidupmu telah memikat kami.
Selamat jalan sang gembala pemberdayaan ke rumah Bapa, tak ada lagi kemiskinan yang menghantuimu. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
Eduardus Dosi
Petrus Turang
Opini Pos Kupang
Edu Dosi
Uskup Emeritus Petrus Turang
Uskup Agung Kupang
Ratusan Umat Menghadiri Misa 40 Hari Mengenang Mgr. Petrus Turang |
![]() |
---|
Uskup Larantuka Mengenang Mgr Petrus Turang Pr Sebagai Sosok yang Peduli Pemberdayaan Umat |
![]() |
---|
Mgr. Hironimus Pakaenoni Sebut Semasa Hidup Mrg. Petrus Turang Telah Menunjukkan Iman yang Kokoh |
![]() |
---|
LIPSUS: Gubernur Melki Menangis, Ribuan Umat Hadiri Pemakaman Uskup Petrus Turang |
![]() |
---|
Mgr Antonius Subianto Bunjamin: Kita Kehilangan Orang yang Jasa dan Cintanya Luar Biasa |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.