Opini
Opini: Jembatan Liliba, Ruang Publik dan Kesehatan Mental Warga Kota Kupang
Jembatan kembar Liliba yang hadir disertai dengan area pedestrian sehingga suasana di sekitar jembatan menjadi hidup dan bersahaja.
Oleh karena itu, sudah selayaknya pemerintah Kota Kupang memprioritaskan hadirnya ruang-ruang publik yang inklusif dan bebas akses untuk memfasilitasi kebutuhan masyarakat Kota Kupang.
Sebab, pada dasarnya ruang publik memiliki kontribusi besar bagi peningkatan taraf kesehatan mental warga perkotaan (Azizah dan Mappa Jaya, 2016).
Kehadiran ruang publik bagi masyarakat perkotaan juga memiliki beberapa nilai instrumental lainnya yakni menjembatani kelompok-kelompok sosial yang semakin terfragmentasi di perkotaan sedangkan harga lahan semakin mahal (Herutomo, 2017).
Tentu saja hal ini perlu serius dipikirkan sehingga berbagai potensi konflik yang bisa saja timbul akibat warga kota yang terfragmentasi dan juga disparitas ekonomi yang semakin menampakkan wajahnya bisa dimitigasi melalui kehadiran ruang publik yang egaliter di Kota Kupang.
Potensi konflik harus dimitigasi karena konflik pun merupakan salah satu penyebab memburuknya kesehatan mental warga.
WHO (2022) melaporkan bahwa hampir semua orang yang terpapar pada keadaan darurat akibat konflik akan mengalami tekanan psikologis.
Sebagai bahan masukan, perencanaan dalam pembuatan ruang publik yang akan memiliki dampak signifikan dalam upaya peningkatan kualitas kesehatan mental warga kota itu haruslah berupa ruang publik yang memiliki keanekaragaman hayati di dalamnya.
Bukan hanya sekadar taman sempit dengan tanaman yang sudah dikurasi secara ketat dilengkapi dengan taman rumput sempit.
Sebab terdapat studi yang menunjukkan bahwa ruang public berupa ruang hijau dan lingkungan alam yang ditandai dengan beragamnya tanaman, pepohonan, dan satwa dapat memberikan manfaat kesehatan mental yang lebih besar dibandingkan ruang hijau dalam skala kecil seperti yang ada di kota-kota pada umumnya (Rahmania, 2024).
Selain faktor kemacetan dan ruang publik, penting juga untuk memperhatikan kondisi ekonomi warga, khususnya kelas menengah yang rentan jatuh dalam kemiskinan.
Jika kelas menengah mengalami kesulitan ekonomi dan daya beli mereka menurun, maka dampaknya akan meluas, termasuk meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan (Chatib Basri, 2024).
Kemiskinan yang berkepanjangan dapat berdampak langsung pada kesehatan mental masyarakat, menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan depresi.
Untuk menghindari hal ini, pemerintah harus berperan aktif dalam menciptakan lapangan kerja yang luas dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
Dengan adanya kesempatan kerja yang lebih banyak, masyarakat memiliki peluang untuk meningkatkan taraf hidupnya dan menghindari keterpurukan ekonomi yang bisa berujung pada permasalahan kesehatan mental.
Selain itu, pembangunan ekonomi yang merata dapat mengurangi kesenjangan sosial dan memperkuat stabilitas sosial di Kota Kupang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/jembatan-liliba-goyah-dan-nyaris-ambrukjpg.jpg)