Cerpen
Cerpen: Mengapa Engkau Pergi Meninggalkanku?
Saat kabar itu menyentuh telingaku, aku kehilangan segalanya. Kata-kata terhenti di ujung lidahku, seolah dunia merampas suaraku.
Oleh: Sirilus Aristo Mbombo*
POS-KUPANG.COM - Dunia senja, dengan warna jingga yang merona di langit, terasa seperti kanvas yang menggambarkan hatiku yang tengah dilanda pilu. Kabar itu datang begitu saja, seperti hembusan angin yang dingin di musim panas.
Tidak dari mulutmu, tidak dari langkahmu, tetapi dari suara-suara orang asing di kejauhan. Mereka berkata, engkau telah pergi, selamanya, meninggalkanku
dalam hening yang pekat.
Saat kabar itu menyentuh telingaku, aku kehilangan segalanya. Kata-kata terhenti di ujung lidahku, seolah dunia merampas suaraku. Aku membeku, terbungkam dalam sunyi.
Rasanya seperti tubuhku berubah menjadi patung yang kehilangan nyawanya. Dalam kesunyian yang mendalam itu, aku tak mampu memahami apa yang baru saja menimpaku.
Aku mencoba bertanya kepada diriku sendiri, mencoba mencari jawaban dari bagian-bagian tubuhku.
Aku bertanya pada mataku, tapi mataku hanya memandang kosong, tanpa arti. Aku bertanya pada hidungku, tetapi ia tetap bernapas tanpa memberikan petunjuk.
Aku bertanya pada mulutku, namun ia bungkam, tak sanggup menyuarakan rasa ini.
Aku bertanya pada tanganku, namun ia terkulai tanpa daya. Aku bertanya pada kakiku, tapi ia tertancap seperti akar yang tak ingin bergerak.
Akhirnya, aku bertanya pada hatiku. Di sanalah, di lubuk terdalam hatiku, aku mendengar sebuah jawaban. Jawaban itu sederhana, tetapi menusuk, “Itulah cinta.”
Dalam malam-malam yang panjang, saat aku hanya ditemani oleh kesunyian dan cahaya rembulan yang samar, pikiranku selalu terbang kepadamu. Sosokmu adalah bayangan yang tak pernah hilang dari benakku.
Aku mencintaimu, bukan dengan rasa yang dibuat-buat, tetapi dengan seluruh keberadaan yang aku miliki.
Namun, di balik itu semua, ada ketidakpastian yang menghantuiku. Aku tak pernah tahu apa yang engkau rasakan terhadap cinta yang kutawarkan.
Setiap hari, hatiku berbisik namamu. Berulang kali aku memanggilmu dalam diam, berharap engkau menjawab, tetapi yang kudengar hanya gema keheningan. Rinduku padamu adalah samudra yang tak pernah surut.
Bahkan, aku sering melupakan kenyataan bahwa engkau, dengan segala keindahan dan keberadaanmu, bukanlah milikku seutuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/ilustrasi-cinta_20171231_123725.jpg)