Sabtu, 11 April 2026

Opini

Opini: Menjadi Betlehem Baru di Indonesia

Kelahiran Tuhan Yesus mau meretas tembok pemisah dan konflik perpecahan antarmanusia dengan membangun jembatan kasih, damai, persaudaraan, dan

Editor: Dion DB Putra
cliving.com
ILUSTRASI 

Oleh: RD Stephanus Turibius Rahmat 
Dosen Unika Indonesia Santo Paulus Ruteng, Flores, NTT

POS-KUPANG.COM - Selamat Natal. Damai di Bumi, Damai di Hati. Natal, kelahiran Yesus yang kita kenangkan setiap tanggal 25 Desember menjadi kisah iman yang penuh damai dan sukacita. 

Sebagaimana layaknya kelahiran seorang anak pasti disambut dengan sukacita dan gembira,  maka peristiwa iman mengenang kelahiran Yesus juga selalu menyenangkan dan menyukakan hati, sebab Dia lahir dan tinggal bersama kita untuk membawa damai dan sukacita. 

Tuhan Yesus lahir ke dunia ketika manusia sibuk membangun tembok-tembok pemisah, perpecahan, dan konflik yang menyebabkan damai dan persaudaraan hilang dari hati manusia.  

Kelahiran Tuhan Yesus mau meretas tembok pemisah dan konflik perpecahan antarmanusia dengan membangun jembatan kasih, damai, persaudaraan, dan pengampunan. 

Dialah Sang Imanuel, Allah beserta kita yang menampakkan wajah Allah yang akbar atau jauh (Deus Tremendum) menjadi Allah yang akrab, dekat dan tinggal bersama manusia (Deus Fascinosum). 

Hati kita semua bergembira dan bersukacita seperti para gembala di padang Efrata ketika mendengar warta para malaikat "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Mesias, Tuhan di kota Daud” (Luk 2:11). 

Ketika  mendengar kabar gembira itu, para gembala segera bangkit, meninggalkan ternaknya dan berseru ”Marilah sekarang kita pergi ke Betlehem….”, serta bersama berjalan mencari tempat kelahiran Yesus. Para gembala  menemukan bayi Yesus yang terbaring dalam palungan. 

Para gembala bukanlah orang hebat atau orang pintar, tetapi orang-orang pinggiran yang teralienasi dari kehidupan sosial. Mereka adalah gambaran orang-orang miskin dan sederhana yang menaruh pengharapan akan keselamatan pada Allah. 
Karena itu, para gembala menjadi orang-orang pertama yang dipilih Allah untuk mendapatkan warta gembira keselamatan. 

Para gembala mempunyai hati yang  terbuka dan siap sedia serta  sigap untuk secara total menanggapi berita keselamatan yang berasal dari Allah. 

Sikap terbuka dan siap sedia seperti ini kiranya menjadi contoh bagi kita supaya bergegas berjalan bersama menjumpai Yesus. 

Setelah berjumpa dengan Yesus, para gembala mengalami transformasi  hidup dan sikap. Para gembala berubah menjadi pribadi-pribadi yang optimis dan dengan sukacita “memuji dan memuliakan Allah” (Luk 2:20). 

Rahmat Tuhan dalam perjumpaan dengan Yesus telah mengubah hidup dan kehidupan para gembala. 

Kekuatan kasih Tuhan yang begitu luar biasa  telah mendorong para gembala untuk selalu memuji dan memuliakan Tuhan dalam rutinitas pekerjaannya sebagai gembala yang sederhana. 

Kelahiran Yesus yang membawa damai dan sukacita bisa dimaknai juga dalam konteks Bangsa Indonesia yang sudah melewati tahapan Pilpres, Pileg dan Pilkada.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved