Opini

Opini: Demokrasi Digital

Kira-kira apa peluang, kendala, dan solusi untuk menerapkan demokrasi digital di tengah beragamnya kondisi unik NTT. 

Editor: Dion DB Putra
shutterstock
Ilustrasi. 

Oleh: Ernestus Holivil
Dosen Administrasi Publik FISIP Undana Kupang

POS-KUPANG.COM - Pilkada NTT tahun ini menjadi salah satu sorotan penting bagi demokrasi digital di Indonesia. 

Di tengah berkembangnya teknologi informasi, proses politik kini tidak lagi terbatas pada ruang fisik, tetapi merambah ke ruang digital yang menawarkan peluang sekaligus tantangan.

Media sosial, aplikasi pemilu, dan berbagai platform digital, di satu sisi menjadi instrument meningkatkan partisipasi pemilih dan transparansi demokrasi. 

Tetapi di sisi lain, masalah infrastruktur, seperti jaringan dan akses internet yang terbatas, serta rendahnya pemahaman masyarakat tentang teknologi menjadi tantangan besar.

Pertanyaanya adalah apakah demokrasi digital benar-benar dapat berfungsi optimal di daerah dengan ketimpangan akses internet seperti NTT? 

Bagaimana teknologi dapat diberdayakan untuk mendukung proses Pilkada di wilayah ini tanpa meninggalkan kelompok masyarakat yang paling rentan? 

Kira-kira apa peluang, kendala, dan solusi untuk menerapkan demokrasi digital di tengah beragamnya kondisi unik NTT. 

Harus diingat, Pilkada NTT menjadi cermin bagaimana demokrasi digital diuji di tengah dinamika politik lokal yang unik.

Ketimpangan Infrastruktur Teknologi

Salah satu hambatan terbesar dalam penerapan demokrasi digital di NTT adalah ketimpangan infrastruktur teknologi (Digital Divide). 

Pilkada yang selalu mengandalkan ruang digital untuk kampanye, pendidikan pemilih, dan pengawasan partisipatif, masalah ini tidak hanya menjadi tantangan teknis tetapi juga ancaman serius terhadap keadilan demokrasi. 

Ketimpangan ini menciptakan jurang akses informasi yang melebar antara daerah perkotaan dan pedesaan, serta memperlebar kesenjangan sosial yang sudah ada.

Penelitian dari Larry Irving, seorang tokoh penting dalam kebijakan teknologi informasi dan komunikasi (ICT) di Amerika Serikat sekaligus pencetus teori Digital Diivide, bahwa kelompok masyarakat dengan pendapatan rendah, pendidikan rendah, atau tinggal di daerah pedesaan
memiliki akses internet dan teknologi jauh lebih sedikit ketimbang kelompok di perkotaan. 

Hal ini dipengaruhi oleh faktor geografis, sosial-ekonomi, dan pendidikan. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved