Terorisme

Kelompok Radikal Masih Membayang, Densus 88 Tangkap 8 Anggota NII di Sumatera dan Jawa

Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap 8 orang anggota NII di beberapa tempat di Sumatera dan Jawa.

Editor: Agustinus Sape
KOMPAS/HIDAYAT SALAM
Kepala Bagian Perencanaan dan Administrasi Densus 88 Antiteror Polri Komisaris Besar Aswin Siregar dan Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Erdi A Chaniago saat konferensi pers penangkapan tujuh pelaku terorisme di Hall Basket Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (6/9/2024). 

POS-KUPANG.COM, JAKARTA - Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri menangkap 8 orang anggota NII di beberapa tempat di Sumatera dan Jawa. Mereka disebut menghadiri pendidikan dan pelatihan dalam rangka penyiapan pasukan "militer".

Kepala Bagian Perencanaan dan Administrasi (Kabag Renmin) Densus 88 Antiteror Polri Komisaris Besar Aswin Siregar, dalam keterangan tertulis, Kamis (21/11/2024), menyampaikan, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri telah menangkap 8 orang anggota Negara Islam Indonesia (NII) di beberapa wilayah di Indonesia pada Selasa (19/11/2024) lalu. Beberapa dari mereka disebut telah mengikuti kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam rangka menyiapkan pasukan "militer".

Para tersangka yang ditangkap itu di antaranya NAA yang berperan sebagai Komandan Jawatan (KJ) di Komando Perang Wilayah Besar (KPWB) III Sumatera. Tersangka NAA terlibat sebagai Sekretaris Kepala Jawatan (KJ) Komando Perang Wilayah Besar (KPWB) dan mengikuti kegiatan Askar (pasukan) di Sumatera Barat.

"Menghadiri kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam rangka menyiapkan pasukan “militer” dan Milad NII yang dilaksanakan di Sumatera Barat," terang Aswin.

Tersangka lainnya adalah JN yang terlibat sebagai Komandan Kompas B Imam Bonjol NII Fraksi MYT. Tersangka JN ditangkap di Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Masih di Kabupaten Agam, terdapat tersangka ER yang terlibat sebagai Bendahara Pok NII MYT Kompas B Imam Bonjol. ER disebut menghadiri kegiatan pelatihan dalam rangka menyiapkan askari (militer) dan Milad NII yang dilaksanakan di Sumatera Barat.

Kemudian terdapat tersangka IS selaku Sekretaris NII Komando Perang Setempat (Kompas) Sumatera Barat. Tersangka IS ditangkap di Kota Payakumbuh, Sumbar, dan disebut menghadiri kegiatan safari dakwah dan sosialisasi program NII 2024 di basecamp Komando Perang Setempat (Kompas) NII Sumbar.

Berikutnya adalah tersangka DYT selaku Kepala Staf KPWB 3 (Komando Perang Wilayah Besar 3) Sumatera Raya dan ikut dalam kegiatan Idad pelatihan askar di Sumbar. Yang bersangkutan ditangkap aparat di Kecamatan Belitang, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan.

Selain itu terdapat tersangka MA yang menjabat sebagai Panglima KPWB 3 (Komando Perang Wilayah Besar 3) Sumatera Raya dan ikut dalam kegiatan Idad pelatihan askar di Sumbar. Tersangka MA ditangkap di Sumsel.

Adapula tersangka SY yang berperan sebagai Imam NII faksi MYT yang juga merupakan Ketua Komando Perang Seluruh Indonesia. SY ditangkap di Kota Bandung, Jawa Barat.

SY melakukan kegiatan pelatihan persiapan Askar/Militer dan Milad Proklamasi NII di Sumbar dan aktif melakukan kajian dan pembinaan terhadap Jamaah NII di wilayah Jawa dan Sumatera. "Melakukan perencanaan pembelian senjata sebagai upaya memperkuat organisasi NII dalam rangka mempersiapkan Jihad Qital (Perang Fisik)," kata Aswin.

Dari penangkapan tersebut, aparat menyita puluhan buku dan dokumen terkait NII, seperti materi kajian NII, proklamasi NII. Selain itu disita pula sebuah badik dan rompi biru pagar Aqidah.

Kelompok radikal masih membayangi

Menurut Aswin, kelompok teror maupun kelompok radikal akan terus berupaya menanamkan pengaruh dan pemikiran radikal kepada masyarakat melalui kegiatan terselubung. Oleh karena itu dia berharap agar masyarakat selalu waspada dan peka terhadap hal itu.  

Penangkapan ke-8 anggota NII tersebut memberikan fakta bahwa kelompok teror secara sistematis berupaya merekrut dan menanamkan pemahaman yang keliru di tengah masyarakat. "Masyarakat hendaknya waspada dan mampu memilah agar tidak terpengaruh oleh propaganda serta paham-paham yang bertentangan dengan ideologi negara," ujarnya.

Peneliti isu terorisme Universitas Malikusssaleh, Lhokseumawe, Aceh, Al Chaidar berpandangan, penangkapan ke-8 anggota NII tersebut menunjukkan keberhasilan pemerintah alam mengokohkan ideologi Pancasila sampai ke desa desa. Sebaliknya, siapa pun yang mengusung perjuangan ideologi yang berbeda, baik kanan atau kiri, akan berhadapan dengan pemerintah.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved