Opini
Opini: Motif Ekonomi Di Balik Laporan Kekerasan Guru
Sebuah angka yang tidak realistis yang layak dicurigai lebih menonjolkan motif ekonomi daripada motif mendidik anak.
Kebutuhan manusia selalu meningkat dari waktu ke waktu. Jika satu kebutuhan sudah terpenuhi akan muncul kebutuhan baru lagi.
Ketiga, mencapai efisiensi. Motif ekonomi juga dapat berupa upaya mencapai efisiensi dalam produksi dan alokasi sumber daya dengan memaksimalkan pemanfaatan tenaga kerja, modal dan teknologi.
Efisiensi akan berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan.
Keempat, meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggungjawab dalam layanan public dapat saja mengeluarkan kebijakan yang didasari oleh motif peningkatan kesejahteraan Masyarakat dengan memperluas kesempatan kerja, menekan kemiskinan dan mepermudah akses atas layanan public.
Menghancurkan Marwah guru
Permintaan uang damai sebesar Rp 50 Juta adalah bentuk pemerasan yang dapat menghancurkan marwah guru. Kita sadar bahwa guru adalah profesi yang masih belum mendapatkan kesejahteraan memadai.
Permintaan uang sebesar itu tentu tak terjangkau oleh seorang guru, apalagi yang masih berstatus honorer.
Kita tidak tahu persis gaji Ibu Supriyani tapi umum dipahami bahwa gaji honorer adalah salah satu yang kecil dibandingkan profesi lain sehingga angka 50 juta adalah angka fantastis yang sulit dipenuhi oleh Ibu Supriyani.
Ketidakmampuan guru untuk membayar denda dapat berdampak pada rasa tanggung jawab guru dalam mengajar dan mendidik. Karena takut denda, guru menjadi apatis, masa bodoh dengan perilaku anak.
Proses yang dilakukan di kelas hanyalah pengajaran dan transfer pengetahuan semata tanpa proses mendidik dan membentuk karakter anak didik.
Kekuatiran ini sudah menjadi nyata dalam realitas di sekolah-sekolah. Kedisiplinan yang longgar, tanggungjawab yang menurun, motivasi mengajar dan belajar yang rendah, serta perilaku siswa yang tak terkontrol sudah makin sering terjadi.
Dalam kondisi yang parah, banyak guru muda yang bahkan ketakutan ketika berhadapan dengan anak didik dan karena itu membiarkan saja anak didik berbuat apa saja. Karena jika berani bertindak maka nasib guru muda akan terancam.
No Kekerasan No Pemerasan
Sekolah mesti menjadi tempat yang jauh dari kekerasan dan pemerasan. Keduanya adalah perilaku buruk yang melukai anak didik dan merusak reputasi dan kewibawaan guru.
Anak didik yang terluka akan kesulitan dalam berkembang dan bertumbuh. Sementara guru yang kehilangan kewibawaan di hadapan anak didik akan turut merusak pembentukan generasi muda yang berkualitas.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.