Opini
Opini: Utilitarianisme Vs Egoisme Etis Dalam Dinamika Politik Indonesia Dewasa Ini
Hal lain juga bisa terjadi bahwa orang menggunakan narasi utilitarisnisme untuk mendapat massa tetapi dalam realitasnya tidak terjadi.
Egoisme etis ini dapat kita lihat dalam setiap pembuatan kebijakan di mana hal itu dapat menciptakan kesempatan bagi orang-orang tertentu untuk memasukkan kepentingan pribadi atau kelompoknya dalam kebijakan yang dibuat.
Ini berarti kesejahteraan bersama diabaikan. Fenomena ini dapat kita temukan dalam kasus-kasus yang sudah pernah terjadi seperti korupsi.
Jabatan digunakan sebagai kesempatan untuk memperkaya diri atau kelompok sehingga tujuan untuk meciptakan bonum communae bagi masyarakat luas diabaikan.
Kebijakan politik yang dilandasi egoisme etis menciptakan ketidakadilan dan merugikan masyarakat.
Dinamika politik Indonesia saat ini menurut saya berada dalam dua posisi tersebut yakni utilitarianisme dan egoisme etis.
Kedua hal ini dalam pengertiannya berada pada posisi yang saling berlawanan.
Utilitarianisme mempunyai tujuan untuk mencapai kesejahteraan bagi sebanyak mungkin orang sedangkan egoisme etis bertujuan untuk mendapatkan kebahagiaan bagi diri sendiri.
Dalam praktiknya, ada politisi tertentu yang menghidupi semangat utilitarian sehingga dalam melaksanakan tugasnya selalu berusaha untuk kepentingan masyarakat umum.
Namun tidak dipungkiri juga bahwa sebagian politisi dalam menjalankan tugasnya mencari kesempatan untuk mengambil keuntungan bagi dirinya sendiri.
Hal lain juga bisa terjadi bahwa orang menggunakan narasi utilitarisnisme untuk mendapat massa tetapi dalam realitasnya tidak terjadi.
Di sinilah terjadi kesenjangan antara janji dan bukti. Misalnya saja dalam membuat kebijakan tertentu yang isinya untuk kesejahteraan banyak orang tetapi dalam realisasinya kebijakan yang sudah dibuat hanya menguntungkan satu dua pihak saja. Akibatnya banyak orang menderita karena kebijakan tersebut.
Dua hal ini menjadi persoalan yang harus diatasi dalam dinamika politik negara ini.
Negara perlu untuk membuat satu mekanisme dalam politik untuk menyeimbangkan egoisme etis dan utilitarianisme.
Diperlukan pengontrolan yang ketat dari lembaga anti korupsi untuk dapat mengurangi dan mengatasi sikap egoisme etis yang dapat merusak kehidupan bersama.
Sementara itu semangat utilitarian harus menjadi pedoman dalam mengambil kebijakan untuk menciptakan masyarakat yang makmur dan sejahtera secara merata. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilusrasi-kusrsi-kepala-daerah.jpg)