Cerpen

Cerpen: Bidadari Kuburan 

Ini pertama kalinya aku mengunjung pusara kakekku. Maklumlah, sebelumnya keluargaku tinggal di pulau seberang yang letaknya cukup jauh. 

Editor: Dion DB Putra
pixabay
Ilustrasi 

Oleh: Stefan  Bandar 
Anggota biara Rogationis Maumere 

POS-KUPANG.COM -  Langit yang tadinya cerah kini berubah menjadi mendung. Gumpalan awan hitam berserakan di angkasa, menutup mentari yang  bersinar terang beberapa saat yang lalu. 

Aku melirik jam yang melingkar pada tanganku, tepat pukul 04:00. 

Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Aku segera bangkit dan berlari menuju sebuah pondok kecil yang letaknya di pinggir jalan, meninggalkan seikat bunga di atas sebuah pusara bertuliskan Longinus Buram. 

Ini pertama kalinya aku mengunjung pusara kakekku. Maklumlah, sebelumnya keluargaku tinggal di pulau seberang yang letaknya cukup jauh. 

Kata ayah, terakhir kali kakek menggendongku adalah dua puluh tahun silam tepatnya saat aku masih berumur dua tahun. Akh, aku tidak bisa mengingatnya. 

“Boleh aku duduk, kak?” sebuah suara tiba-tiba menyapaku. “Boleh, boleh. Silakan”, kataku mempersilahkannya duduk tepat di sebelahku. 

Tubuhnya dibalut gaun hitam, dengan masker menutup sebagian wajahnya. Gaunnya sedikit basah, mungkin beberapa rintik hujan jatuh tepat di atasnya. 

Awan mulai mengepul bersama rintik hujan yang terus berjatuhan. Udara yang berhembus perlahan membuat aku sedikit merasa kedinginan. 

Aku kembali melirik jam tanganku, tepat pukul 05:30. Segera kuambil chellphone lalu mengirim pesan agar ayah datang menjemputku, setelah kusadari bahwa hujan tidak akan berhenti hingga malam.  

Sambil menunggu, aku mencoba menyanyikan beberapa lagu. “Kakak suka nyanyi, ya?” Aku sedikit tersentak. Aku tersadar bahwa gadis yang menyapaku beberapa saat yang lalu masih duduk di sebelahku. “Emm, ya begitulah”, sahutku pelan.  

Aku menatapnya sebentar, “Kamu kedinginan? Ini, aku pinjam-in kamu jacketku”, kataku sambil mengeluarkan jaket yang membungkus tubuhku. 

“Tidak apa-apa kak, aku tidak kedinginan”, katanya mencoba menolak tawaranku. “Akh, sudalah. Ini, ambil”, kataku sambil menyodorkan jaketku padanya. “Terima kasih ya, kak”, katanya pelan. 

Awan dan hujan kini berpadu menjadi satu. Lampu-lampu taman kuburan mulai bercahaya. Sebentar-sebentar aku melirik jam lalu melirik pintu gerbang berharap ayah segera datang menjemputku. 

“Oh iya, aku Nick. Rumahku berada di gang Mawar, mungkin hanya sepuluh menit dari sini. Aku baru pertama kali datang ke sini”, kataku mencoba mengungkapkan identitasku. “Bagaimana dengan kamu?” tanyaku. 

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved