Breaking News

Opini

Opini: Ende, ‘Ngeri Ko, Eja!’

Tetapi setelah melihat rangkaian acara sejak tiba di Bandara H. Hasan Aroeboesman  pukul 14.15, Sabtu 10 Agustus 2024,  perasaan itu menghilang.

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/ALBERT AQUINALDO
Tokoh lintas agama menyambut Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr Paul Budi Kleden di Wolowona tepat di Patung Marilonga, Sabtu, 10 Agustus 2024. 

Minimal melalui penerimaan di Sabtu 10 Agustus 2024, Ata Ende-Lio sebagai tuan rumah ( sambil tidak melupakan umat di Nagekeo dan Ngada), bahwa dari luar bisa saja Ende itu tambil menakutkan seperti ular sawah ‘Cinde’. 

Jelasnya, Ende itu bukan menakutkan seperti yang orang mengerti dari kata ‘ngeri’ (horrofied), ekspresi  rasa takut dan khawatir karena ada seusatu yang menakutkan yang tidak lengkap kalau bulu kuduk tidak berdiri. 

Tetapi di Ende, ‘ngeri’ punya makna lain yang dalam linguistik disebut sebagai ‘superlatif’ alias tertinggi. 

Di sinilah arti ‘Ende Negeri Ko’ adalah kekaguman akan nilai yang teramat tinggi yang sudah ada dan diwariskan ‘dari doeloe’ dan sudah berurat-berakar ‘mati punya’. Yang mereka tunggu hanyalah sang gembalanya yang merendah dapat merenda potensi yang mereka sudah ada. 

Karena itu kekaguman ini tentu bukan akhir. Ia baru awal. Diharapkan setelah berjalan, semakin lama tersibak keindahan sutera berbunga dan ular sawah indah agar bersama membenarkan bahwa: Ende, Ngeri ko Eja’. (*)

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved