Opini

Opini: Ende, ‘Ngeri Ko, Eja!’

Tetapi setelah melihat rangkaian acara sejak tiba di Bandara H. Hasan Aroeboesman  pukul 14.15, Sabtu 10 Agustus 2024,  perasaan itu menghilang.

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/ALBERT AQUINALDO
Tokoh lintas agama menyambut Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr Paul Budi Kleden di Wolowona tepat di Patung Marilonga, Sabtu, 10 Agustus 2024. 

Oleh Robert Bala 
Penulis buku Mengiringi Kematian (dalam Proses Terbit)

POS-KUPANG.COM - Sudah ada dalam bayangan,  P. Paulus Budi Kleden, SVD akan diterima. Tetapi mengalami ‘secara online’ sebuah penerimaan yang begitu luar biasa, tentu saja tidak terbayangkan. Malah ada rasa ‘waswas’. 

Penerimaan dan euforia keterpilihan Uskup kelahiran Waibalun 16 November 1965 meski mendunia tetapi tidak bisa disangkali, kalau secara manusiawi ada rasa yang ‘kurang’, meski tak terungkap. 

Tetapi setelah melihat rangkaian acara sejak tiba di Bandara H. Hasan Aroeboesman  pukul 14.15, Sabtu 10 Agustus 2024,  perasaan itu perlahan menghilang.
 

Robert Bala
Robert Bala 

Kekompakan panitia hasil kolaborasi imam dan awam mendisain penerimaan di bandara, melewati Jalan Gatot Subroto, disusul Maching Band Madrasah Aliyah Negri Ende, penyambutan tokoh lintas agama, hingga detik-detik memasuki Istana Keuskupan Agung Ende ( KAE) di Ndona menjadi tontonan berbeda. 

Aneka sajian itu tentu tidak sekadar sebuah tontonan. Yang jauh lebih penting bertanya, apa pesan terkirim melalui euphoria yang sangat besar itu? Apa yang terpikir dalam diri Uskup Budi melihat aneka sambutan itu? 

Ende, Indah

Sajian penerima yang sangat indah, teratur, dan artistik saat penjemputan Uskup Budi bukan sebuah kebetulan. Dari dalam, nama Ende katanya berasal dari kain sutera ‘Cindai’ yang berbunga-bunga. 

Ada yang melihat warna bunga-bunga dari ular sawah yang oleh orang Ende disebut ‘sawa lero’ tetapi oleh pendatang disebut ‘Cinde’ yang oleh penuturan lisan menjadi cendau, cindau, sendu, cinde, Kinde, Ciendeh, dan akhirnya Endeh dan Ende. 

Nama artistik itu tidak dibiarkan sendiri. Masyarakat Ende menghadirkan proporsi tertinggi Muslim (26 persen) dan tertinggi di NTT dan hanya diikuti oleh Alor ( 25 persen ). 

Kabupaten lain lebih didominasi oleh agama Kristen Katolik dan Protestan. Karena itu barometer toleransi NTT  ada di Ende. 

Karena menyaksikan Madrasah Aliyah Negeri Ende, sambutan para pemuka lintas agama, deretan gadis berjilbab dan pria-pria bersongko mengayunkan bendera Merah Putih dan Kuning Putih (bendera Vatikan) membuat bulu kuduk merinding. 

Ini adalah warna warni sutera ‘Cindai’ maupun ‘Cinde’ terpateri dengan sangat jelas. 

Tetapi apakah ini baru ditampilkan menjelang tahbisan Uskup Agung Ende 22 Agustus nanti? Tidak. 

Ende ternyata dari ‘doeloe’ sudah dianggap bak ‘meting pot’ alias panci peleburan terindah. Pemilihan Ende sebagai tempat pengasingan Bung Karno bisa menjadi salah satu pertimbangan bagi Belanda untuk ‘menyekolahkan Bung Karno’ di negeri sutera ini. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved