Opini

Opini: Ende, ‘Ngeri Ko, Eja!’

Tetapi setelah melihat rangkaian acara sejak tiba di Bandara H. Hasan Aroeboesman  pukul 14.15, Sabtu 10 Agustus 2024,  perasaan itu menghilang.

|
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/ALBERT AQUINALDO
Tokoh lintas agama menyambut Uskup Keuskupan Agung Ende, Mgr Paul Budi Kleden di Wolowona tepat di Patung Marilonga, Sabtu, 10 Agustus 2024. 

Jauh sebelumnya, Gereja Katolik telah melihat Ende sebagai  ‘metropolitan’ jauh sebelum Kupang. 

Di tahun 1913 jadi Presfek Apostolik Sunda Kecil dan tahun 1922 menjadi Vikariat Apostolik Sunda Kecil. Di tahun 1951 menjadi keuskupan dan 10 tahun kemudian 1961 menjadi Keuskupan Agung hingga saat ini. 

Itu artinya, cuplikan artistik yang ditampilkan selama hampir 4 jam hingga tiba di Ndona adalah ekspresi bahwa ‘ini Ende’ yang aslinya ‘begini sudah’. Yang ditampilkan bukan sekadar pentas apalagi sekadar tampil mengibuli. Tidak. 

Goyangan gemulai para ibu dan gadis, kelincahan kaum lelaki memainkan perang atau perisai dan kelincahan merangkai kata secara spontan,  membiaskan apa artinya Ende indah yang dari dulu dijaga dan kini hanya ditunjukkan sedikit. 

Merendah dan Merenda 

Bagi yang mengenal Budi secara sangat dekat, terutama sebagai teman kelas, segera menafsir. Dari jauh, mengamati ‘Sang Gembala’ diarak dan ‘dipasak’ mengeluarkan badan di atas kendaraan putih dan memberikan salam secara terbuka dengan cepat bisa ikut merasakan betapa menderitanya Uskup Budi. 

Ia tersenyum tetapi kelihatan tidak utuh. Ia bertolak belakang dengan kepribadiannya yang rendah hati dan tidak ingin agar diayubahagiakan dan diangkat begitu tinggi. 

Baginya kalau sempat ditanya, pasti ia memilih, sama seperti memilih ditahbiskan di Katedral Ende dan tidak menjadikannya pentas di sebuah lapangan terbuka. 

Tentang hal ini, seorang teman kelas dengan tepat sekali membahasakannya dalam ungkapan sederhana: “Saya bisa bayangkan Budi dalam hati kocar-kacir antara terharu..bahagia. Tapi ia juga sedih karena merasa terlalu berlebihan, tidak sesuai dengan harapannya, dan macam-macam lagi. Semuanya ini  belum pernah terjadi penerimaan seperti ini”.

Tetapi terhadap semua sanjungan dan penerimaan begitu mulia, seorang sahabat lain mengungkapkan hal yang mengagumkan: “Memang banyak orang yang ketika disanjung berlebihan, kadang mereka lupa turun, malah terus melayang. Budi, katanya, tahu bagaimana ia harus ‘landing’” hal mana menjadi ekspresi terdalam dari kerendahan hatinya yang jujur. 

Sampai di sini tersasa bahwa di tengah euforia itu tidak akan membuatnya lupa karena dari ‘sononya’ ia sudah memiliki kerendahan hati. 

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana ‘merenda’ semua jahitan persaudaraan yang telah ada dan menjadi nyata motto Peliharalah Kasih Persaudaraan?  

Bagaimana Uskup Budi memelihara kasih persaudaraan secara internal dalam KAE antara orang yang berbeda latar belakang dan budaya? Lalu bagaimana secara eksternal membangun persaudaraan penuh toleransi dengan sesama Kerabat Semesta? 

Tidak hanya itu, bagaimana kekerabatan itu memasuki ruang-ruang kosmos hingga bisa bersahabat dengan alam? 

Inilah pertanyaan yang tentu saja jauh lebih penting dari sekadar penerimaan yang bisa divisualisasi dan bisa dijadikan sekadar tontonan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved