Opini
Opini: Ansy Lema Harapan Milenial NTT
Sejak 14 April 2024, dukungan kelompok milenial dari berbagai daerah di Provinsi NTT muncul dan tumbuh secara eksponensial.
Oleh : Daniel Deha, S.Fil, M.I.Kom
Pegiat Media Sosial
POS-KUPANG.COM - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi telah menabuh gong tahapan pelaksanaan Pemilihan Gubernur Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pilgub NTT) pada 3 April 2024. Seremoni demokrasi itu menyulut eskalasi percakapan politik lokal di ruang publik.
Politikus PDI Perjuangan, Yohanis Fransiskus Lema atau Ansy Lema, adalah satu di antara banyak figur yang mengisi ruang percakapan publik hari-hari ini.
Namun tidak seperti figur lain yang terburu-buru mendeklarasikan diri atau mendaftar ke partai, dukungan terhadapnya justru muncul dari akar rumput.
Sejak 14 April 2024, dukungan kelompok milenial dari berbagai daerah di Provinsi NTT muncul dan tumbuh secara eksponensial.
Jaringan aspirasi politik milenial tersebar di tiga pulau besar di NTT, antara lain di Timor, Flores dan Sumba.
Deklarasi dukungan Ansy Lema dimulai di Kota Kupang, kemudian berlanjut di Maumere, Belu, lalu di Ende, Ngada, TTS, Sumba Timur, Manggarai Timur dan Manggarai, TTU, dan Manggarai Barat. Total, sudah terbentuk jaringan relawan milenial di 11 Kabupaten.
Mereka “memanggil pulang Kaka Ansy Lema” untuk mengabdi pada rakyat NTT. Eskalasi dukungan di platform media sosial pun semakin kuat, yang melaluinya, nama Ansy Lema semakin populer dan mempertebal tingkat akseptabilitas di masyarakat.
Gerilya dukungan kelompok milenial terhadap sosok calon gubernur merupakan fenomena baru dalam kancah politik NTT.
Ini menandai sebuah era baru, yaitu tumbuhnya ‘kesadaran politik’ dari kelompok demografi dengan populasi terbesar di NTT tersebut untuk secara langsung terlibat dalam diskursus politik. Mereka sadar bahwa mendukung figur tertentu adalah bagian dari tanggung jawab kepublikan.
Milenial terpanggil untuk berpartisipasi dalam dinamika politik dan merancang nalar politik yang rasional untuk menghasilkan kepemimpinan yang ideal di NTT.
Setelah terjadi krisis kepemimpinan di era sebelumnya, kini saatnya milenial menentukan siapa yang layak untuk menahkodai provinsi berjulukan “Nusa Seribu Wisata” ini.
Kita tidak bisa menutup telinga bahwa seolah-olah anak muda memilih diam. Mereka pasti akan terus gelisah tentang masa depan yang lebih baik.
Apalagi ketika rantai permasalahan di bumi Flobamora semakin kompleks. Misalnya aspirasi dari milenial di Sumba Timur. Dalam acara deklarasi dukungan terhadap Ansy Lema pada 22 April 2024, mereka menyatakan bahwa kontestasi pilkada adalah kontestasi rekam jejak, gagasan dan visi membangun daerah.
Parameter memilih pemimpin yang ideal bukan dilihat dari ‘amplop’ yang tebal, tetapi karena gagasan dan agenda strategis yang diusungnya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.