Berita NTT

Meski Deflasi, Harga Beras dan Pisang Patut Diperhatikan Khusus di NTT

Kondisi ini disebabkan oleh hama dan penyakit layu darah pisang yang terjadi di daratan Flores dan Sumba yang mengganggu produktivitas.

Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Oby Lewanmeru
POS-KUPANG.COM/ASTI DHEMA
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Agus Sistyo Widjajati (tengah) saat Buka Puasa Bersama di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT pada Selasa, 2 April 2024. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Provinsi NTT kembali mengalami deflasi sebesar -0,14 persen (mtm) atau 1,92 persen (yoy) berdasarkan rilis Berita Resmi Statistik BPS Provinsi NTT Maret 2024.

Level inflasi ini terkendali dalam rentang sasaran 2,5±1 persen. Deflasi disebabkan oleh penurunan harga sejumlah komoditas seperti ikan tembang, tomat, angkutan udara, daging babi, dan daging ayam ras.

Secara spasial, deflasi terdalam terjadi di Kabupaten TTS yang mencapai -1,47 persen (mtm), sedangkan inflasi tertinggi terjadi di Waingapu sebesar 0,52 persen (mtm).

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Agus Sistyo Widjajati mengungkapkan, meskipun mengalami deflasi, inflasi beras dan pisang patut mendapat perhatian khusus. Beras tercatat memberikan andil inflasi sebesar 0,23 persen (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,16 persen (mtm).

Baca juga: BPS NTT Gelar Sosialisasi Proyeksi Penduduk Kabupaten dan Kota 2020-2035

Inflasi beras tercatat masih dialami oleh seluruh Kota IHK di Provinsi NTT. Kondisi ini sejalan dengan fenomena yang terjadi secara nasional sebagai dampak dari El Nino di mana pemenuhan kebutuhan beras dari NTT masih bergantung pada daerah sentra lainnya, seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan di mana di daerah sentra tersebut beras masih tercatat inflasi dengan andil 0,85 persen dan 0,17 persen.

"Sementara itu, pisang yang secara historis bukan merupakan komoditas utama penyumbang inflasi di Provinsi NTT, tercatat sebagai penyumbang inflasi di bulan Maret 2024,"ungkap Agus pada Rabu, 3 April 2024.

Kondisi ini disebabkan oleh hama dan penyakit layu darah pisang yang terjadi di daratan Flores dan Sumba yang mengganggu produktivitas.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT mencatat 7 pertanian petani pisang di wilayah Flores dan Sumba terdampak serangan tersebut. (dhe)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved