Opini

Opini: Ovidius dan Kosmetik

Baris tersebut saya kutip sebagai pembuka puisi Matria dalam buku puisi saya Keledai yang Mulia. Di tahun kelahiran Ovidius, Cicero meninggal dunia.

|
Editor: Dion DB Putra
DOK
Ilustrasi. Buku puisi Keledai yang Mulia karya Mario F Lawi. 

Telah kusaksikan perempuan menghancurkan bunga popi, membasahinya dengan air dingin dan mengoleskan ramuan itu pada pipi halusnya.

Dua baris tersebut hanya menunjukkan kepada pembaca keterangan dua bahan, tanpa informasi takaran dan manfaat penggunaan.

Medicamina kerap dianggap sebagai karya minor Ovidius. Anggapan tersebut diajukan dengan mempertimbangkan lacunae atau banyaknya baris yang hilang, yang tak lagi memungkinkan kita membaca baris-baris setelah kuplet terakhir di atas.

Meski demikian, Medicamina jelas memiliki benang merah dengan karya-karya lain Ovidius. Medicamina adalah juga puisi tentang transformasi, dalam semangat anti-Metamorphoses.

Dalam Metamorphoses, puisi heksameternya, perubahan identik dengan penaklukan, kekalahan, keterasingan, kejatuhan ke dalam situasi terburuk, bahkan kamuflase untuk menghindari ancaman, sedangkan kaum perempuan yang membaca Medicamina diharapkan berubah dan mencapai kualitas terbaik diri mereka.

Kita juga ingat, Medicamina bukan satu-satunya karya Ovidius yang memperhitungkan besarnya kontribusi tokoh-tokoh perempuan dalam karya
sastra.

Dalam Heroides, Ovidius memberikan suara yang begitu leluasa terhadap para tokoh perempuan yang kerap terpinggirkan dalam puisi-puisi epik Romawi dan Yunani.

Semangat didaktik dalam Medicamina tentu saja telah lebih dahulu dirintis Ovidius dalam Ars Amatoria. Dari segi cakupan pembahasan, Medicamina bukan satu-satunya karya Ovidius yang mengurusi penampilan perempuan.

Dalam sejumlah baris Ars Amatoria dan Remedia Amoris, Ovidius menekankan pentingnya kosmetik dan aksesori bagi perempuan.

Sejumlah bahan dalam Medicamina tentu tak bisa begitu saja kita terima tanpa penelitian dan pengujian lebih lanjut, sebagaimana kita tak bisa mengandalkan kalung abracadabra untuk mengusir demam, sesuai saran penyair Quintus Serenus Sammonicus dalam karyanya Liber Medicinalis.

Meski anjuran dalam Medicamina begitu terbuka untuk kita ragukan di zaman ini, anjuran tersebut disampaikan dalam puisi.

Di zaman ketika informasi begitu cepat berlalu dari hadapan kita, ketika mengecek dan memverifikasi informasi adalah hal yang tak lagi bisa kita hindari, membaca Medicamina membuat kita menemukan hal meragukan yang kita terima dengan sukacita karena ia disampaikan dengan bentuk yang indah. (*)

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved