Opini
Terima Kasih Sri Mulyani
Pajak sudah turun menjadi sekitar 6 persen. Hal itu begitu berpengaruh terhadap sedikit royalti yang diterima.
Oleh Robert Bala
Penulis Buku Homili yang Memikat (Penerbit Ledalero, Maret 2024)
POS-KUPANG.COM - Bulan Februari (dan Agustus) biasanya menjadi bulan yang paling ditunggu penulis buku. Saat itu mereka dengan harap-harap cemas menunggu transferan royalti dari penerbit akan hasil penjualan selama 6 bulan sebelumnya.
Karena sudah terbiasa dengan pajak yang sangat tinggi yang oleh Tere Liye digambar sebagai yang tertinggi dari deretan profesi lainnya entah dokter, akuntan, arsitek, motivator, bahkan artis, saya tidak banyak berharap. Pasalnya pajak yang paling rendah mencapai 15 persen dan akan meningkat dengan bertambahnya royalti saya akhirnya bersiap menerima apa adanya.
Tetapi di tahun 2024 ini justru saya memperoleh kabar gembira dan harus mengucapkan terima kasih kasih kepada Ibu Sri Mulyani yang oleh gebrakannya, sejak tahun 2023 para penulis buku bisa bernapas legah.
Pajak sudah turun menjadi sekitar 6 persen. Hal itu begitu berpengaruh terhadap sedikit royalti yang diterima. Memang itu tidak seberapa tetapi dibanding dengan sebelumnya, kali ini harus saya merasa berterima kasih.
Saya patut kaitkan rasa terima kasih saya kepada Sri Mulyani dan bukan kepada Jokowi. Ya logikanya harusnya ke Jokowi. Tetapi melihat dinamika politik menjelang pilpres, saya mau kerucutkan untuk menyebut Sri Mulyani.
Dia merupakan figur yang sangat konsisten, menekankan kredibilitas tanpa tedeng aling-aling. Dia tidak punya target lain misalnya demu mencapai keuntungan bagi keluarga atau dinastinya. Yang ia lakukan hanya demi negara dan bangsa.
Caranya bagaimana? Dengan menjaga agar selalu terjamin stabilitas fiskal. Hal ini tentu didasarkan pada kecakapan dan pengalaman yang dimiliki. Tetapi bisa juga karena ia belajar dari pengalaman negara seperti Brazil dan Yunani yang sejak 10 tahun lalu mengalami kejatuhan yang tidak sedikit. Dari situ, wanita kelahiran Bandar Lampung 26 Agustus 1962 hanya punya satu komitmen agar bisa menyelamatkan bangsa ini agar tidak jatuh.
Tidak itu saja. Dalam beberapa bulan terakhir menjelang pilpres dan pileg 2024,Sri Mulyani kembali menunjukkan sosoknya yang konsisten dan kredibel.
Dari kejujuran dan pengetahuan serta pengalamannya mengelola negeri ini secara realistis dan bukan sekadar janji manis, sangat wajar ia merasa aneh terhadap aneka janji yang barangkali tak realistis.
Karena itu sangat manusiawi kalau seorang seperti Sri Mulyani bisa menunjukkan sikap ‘hopeless’ terhadap kepemimpinan bagnsa ini.
Tetapi ia justru diam, mengambil jarak dan mempertimbangkan bahwa di atas bahunya, 280 juta masyarakat Indonesia mengarahkan pandangan penuh harap. Ia lalu mengorbankan egoismenya dan melanjutkan karyanya, minimal menyelesaikan masa pemerintahan yang telah ia janji untuk mulai dan melewatinya.
Saya pun mulai mengerti mengapa wanita ini bisa diberi penghargaan tingkat internasional di Dubai di tahun 2018, sebagai Menteri terbaik dunia di World Development Summit di Dubai.
Sebuah pengakuan dunia internasional tentu tidak saja pada tangan dinginnya yang bisa menghasilkan kebijakan yang sangat profesional di tengah pilihan popularitas belaka.
Di sinilah saya memuji Sri Mulyani. Tentu pujian saya tidak saja karena telah membuat kebijakan yang membuat saya sebagai penulis buku bisa merasa ‘terkejut’ atas royalti yang meski sedikit tetapi masih terlalu banyak dari royalti sebelumnya yang ‘sedikit banget’.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sri-Mulyani-Soal-Pajak-Penghasilan.jpg)