Liputan Khusus

Lipsus - Tujuh Pelaksana Pemilu di NTT Meninggal Dunia Selama Pemungutan Suara

Ketua Komisi Pemilihan Umum Provinsi NTT, Jemris Fointuna menyebut tujuh pelaksana Pemilu itu  meninggal dunia selama proses pemungutan suara.

|
Editor: Ryan Nong
POS KUPANG/ISTIMEWA
Keluarga menangisi jenazah Aloysius Demo (57), ketua Panitia Pemungut Suara (PPS) Desa Golo Nderu, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur (Matim). 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Sebanyak 71 pelaksana Pemilu di Indonesia meninggal dunia. Jumlah itu termasuk tujuh pelaksana Pemilu di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdiri atas PPK, PPS, KPPS dan Linmas.

Ketua Komisi Pemilihan Umum Provinsi NTT ( KPU NTT ), Jemris Fointuna menyebut tujuh pelaksana Pemilu itu  meninggal dunia selama proses pemungutan suara.

Tujuh orang pelaksana Pemilu yang meninggal dunia itu terdiri dari satu orang anggota Penitia Pemilihan Kecamatan (PPK), tiga orang anggota Panitia Pemungut Suara (PPS), dua orang anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan satu Petugas Linmas. Satu diantaranya telah dibayarkan santunannya.

Baca juga: Lipsus - Perebutan Suara DPD RI, Stevi Harman Unggul, Paul Liyanto Salip Hilda Manafe

"Yang baru dibayarkan satu meninggal di Kabupaten Malaka, sedangkan yang lainnya laporan yang diterima masih mengurus kelengkapan administrasinya," ungkap Jemris.

Selain tujuh orang yang meninggal, kata Jemris, tujuh lainnya mengalami kecelakaan kerja. Mereka terdiri dari dua anggota PPK, dua anggota PPS, dan tiga orang KPPS. Sementara, sebanyak 198 orang mengalami sakit yakni 14 PPK, 20 PPS, 152 KPPS dan 12 Linmas.

"Kalau administrasi sudah lengkap tentu ada hak mereka berupa santunan atau lainnya akan diurus. Intinya masih menunggu kelengkapan administrasi mereka dan kalau sudah dinyatakan lengkap oleh tim Verifikator akan ditindaklanjuti," ungkapnya.

Dari Kabupaten Maggarai Timur (Matim), Aloysius Demo (57), Ketua PPS Desa Golo Nderu, Kecamatan Lamba Leda Selatan, meninggal dunia diduga karena kelelahan dalam mengurus Pemilu 2024 sesuai tugas PPS.

Adik kandung Aloysius, Gaspar Hasan, dihubungi Pos Kupang melalui sambungan telepon dari Borong ke Golo Nderu, Jumat (23/2) pagi, membenarkan hal itu. Gaspar mengatakan, kakak kandungnya, Aloysius, meninggal dunia karena kelelahan dalam mengurus Pemilu 2024 di tingkat PPS Desa.

Aloysius meninggal dunia di rumahnya, Selasa (20/2) lalu. Sebelum meninggal korban sibuk mengurus dan mempersiapkan berkas-berkas untuk pleno perhitungan suara di tingkat PPK Kecamatan Lamba Leda Selatan. Sebelum meninggal dunia, Aloysius mengalami sakit.

Namun, keluarga menduga Aloysius hanya sakit biasa saja, sebab sebelumnya tidak memiliki riwayat sakit. Karena itu, Aloysius tidak dibawa ke Puskesmas atau Rumah Sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Aloysius dimakamkan di desanya di Kampung Lamba.

Menurut Gaspar, Aloysius sangat konsisten dalam menjalankan tugasnya sebagai ketua KPPS. "Semua urusan Pemilu dijalankan sangat konsisten sesuai tugas dan tanggung jawab sebagai seorang ketua PPS," ujar Gaspar.

Aloysius juga dikenal sangat baik dan ramah di mata keluarga dan masyarakat. Karena itu, kepergian Aloysius membuat keluarga sangat terpukul. Korban pergi meninggalkan satu orang istri dan tiga orang anak.

"Kami belum siap menerima kepergian Aloysius. Kepergiaan Aloysius membawa duka mendalam bagi kami keluarga," ujarnya.

Lebih lanjut Gaspar meminta agar pemerintah dalam hal ini pihak KPU bisa memperhatikan keluarga anggota KPPS yang meninggal dunia yang ditinggalkan.

"Saya pikir KPU paling tahu seperti apa yang harus dilakukan. Apa dialami kakak Aloysius, maupun petugas PPS lain yang meninggal dunia saat bertugas menyelenggarakan Pemilu 2024 di tingkat desa. Paling tidak, keluarga-keluarga PPS yang ditinggalkan itu bisa diperhatikan," pintanya.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved