Sabtu, 11 April 2026

Berita NTT

Dinas Pertanian NTT Sebut Gagal Panen Memicu Tingginya Harga Beras

masalah gagal panen  akan membebani pemerintah untuk menyiapkan skema baru terkait bagaimana merumuskan kebijakan untuk menolong masalah gagal panen

Penulis: Elisabeth Eklesia Mei | Editor: Edi Hayong
POS-KUPANG.COM/EKLESIA MEI
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Lecky Frederich Koli, S.TP  

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Eklesia Mei

POS-KUPANG.COM, KUPANG- Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT menyebut terjadinya gagal panen di NTT memicu tingginya harga beras.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT, Lecky Frederich Koli, S.TP saat diwawancarai POS-KUPANG.COM, Rabu 28 Februari 2024.

"Ini (gagal panen) sudah pasti mempengaruhi harga beras yang mahal juga karena suplay bahan pangan terbatas dan permintaannya tinggi sehingga harga naik," kata Lecky.

Lecky menyebut, masalah gagal panen  akan membebani pemerintah untuk menyiapkan skema baru terkait bagaimana merumuskan kebijakan untuk menolong masalah-masalah gagal panen yang terjadi di Provinsi NTT.

"Kalau gagal panen maka tidak ada makanan, ekonomi juga menurun karena daya beli masyarakat menurun, harga naik. Kondisi ini sangat tidak kita harapkan," sebutnya.

Saat ini, kata Lecky, NTT sedang mengalami fenomena alam El Nino yaitu terjadi kekeringan yang berkepanjangan. Yang mana, fenomena alam itu sangat ekstrem yang melanda keseluruhan wilayah di Provinsi NTT.

"Oleh karena keterbatasan sumber daya air itu, kita menghadapi ancaman hasil panen. Biasanya bulan seperti saat ini, kita hampir selesi menanam. Tetapi dari data Kerangka Sampel Area atau KSA dari 150 ribu hektare, kita baru menanam 40 persen," ungkapnya.

"Ini akan berpengaruh pada ketersediaan pangan kita di tahun ini dan beberapa waktu ke depan," tambahnya.

Baca juga: Curah Hujan Rendah, Tanaman Padi Sawah di Belu Terancam Gagal Panen

Baca juga: Curah Hujan Rendah, Petani Jagung di Borong Manggarai Timur Khawatir Jagung Gagal Panen

Terkait persoalan itu, kata Lecky, Dinas Pertanian Provinsi NTT mengundang semua Dinas Pertanian Kabupaten untuk melakukan rapat koordinasi yang membicarakan langkah yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan produksi petani yang sudah menanam.

Lecky menyebut, adapun langkah yang diambil oleh Pemerintah Provinsi NTT dalam hal penanganan yaitu berkoordinasi dengan BMKG untuk memetakan wilayah mana saja yang hujan yang masih memungkinkan, harus sudah beralih ke komoditas lain selain padi.

"Berdasarkan data dari BMKG dalam melihat fenomena alam yang terjadi, kita akan geser dari padi ke jagung dan saat ini kita sudah mempersiapkan sekitar 30 rb hektare. Untuk wilayah yang tidak dimungkinkan untuk menanam jagung bisa memilih kacang ijo," tuturnya.

Langkah selanjutnya, kata Lecky, Dinas Pertanian Provinsi NTT telah meminta dinas pertanian Kabupaten untuk memonitor semua sumur yang dibangun Dinas PUPR untuk dioptimalkan pemanfaatannya, sehingga suplay air bisa memenuhi kebutuhan petani-petani yang akan menanam.

Kemudian, langkah ketiga, semua aset Pemprov yang dikelola oleh Dinas Pertanian yang memiliki sumber airnya diizinkan untuk dimanfaatkan agar bisa diproduksi .(cr20)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved