Opini
Program Makan Siang dan Susu Gratis
Menurut informasi dari kubu Pragib jumlah anak sekolah yang akan dilayani 82,9 juta, dengan perkiraan biaya per tahun Rp 400 triliun.
Menyiapkan makanan untuk banyak orang setiap hari juga berpotensi menggerus mutu dan cita rasa, apalagi kurang pengawasan, dan mau cari untung. Masalah ketiga, Prabowo menegaskan susu yang akan diberikan adalah susu sapi perah.
Pendapat ini beralasan, namun kalau diikuti, tentu sulit memberikan susu kepada para siswa karena persediaan sapi perah dalam negeri terbatas.
Keterbatasan persediaan sapi perah tentu merupakan hambatan untuk pemberian susu gratis dan harus menunggu beberapa tahun sebelum adanya sapi perah impor di pelbagai daerah dan pemberdayaan peternak di daerah seperti NTT supaya produksi sapi perah local meningkat.
Kalau dipaksakan berjalan berarti bukan susu sapi murni yang disajikan dan hal itu bertentangan dengan tekad Prabowo. Sungguh dilematis, mau segera tunaikan janji kampanye atau konsisten dengan pendapat sang pemimpin.
Masalah keempat, karena hak menetapkan anggaran ada pada DPR, maka program ini harus dibahas pemerintah bersama wakil rakyat. DPR pendukung koalisi Indonesia maju pasti diperintahkan untuk mendukung program dimaksud.
Lain halnya dengan DPR yang mendukung Gama dan Amin. Mereka pasti diarahkan mendukung program program prioritas seperti pendidikan kesehatan dan pengentasan kemiskinan.
Daripada alokasikan Rp 400 triliun untuk makan siang dan susu gratis, lebih baik dana tersebut digunakan untuk memperbaiki dan membangun sekolah, menaikkan gaji guru guru honorer serta membangun puskesmas dan sarana kesehatan lainnya.
Selain itu karena penanggulangan kemiskinan sangat tergantung dari program pemerintah pusat (Kemensos) yaitu Program Keluarga Harapan yang mencapai 89.3 persen, dan kartu sembako 86.5 persen, maka para wakil rakyat akan lebih memilih menambah anggaran untuk mendukung program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Kemensos.
Dengan demikian jadi tidaknya program kubu Pragib dilaksanakan tergantung kesepakatan dan keputusan DPR.
Menurut penulis,lebih baik dana Rp 400 triliun untuk meningkatkan nilai tambah masyarakat dengan menyiapkan banyak kail dan meningkatkan ketrampilan menangkap ikan, daripada memberi ikan setiap hari yang habis dikonsumsi, dan terus menciptakan ketergantungan pada pemerintah.
Memperhatikan empat masalah di atas, dapat dikatakan program makan siang dan susu gratis bagi para siswa kurang rasional dan realistis.
Betul negara kita kaya dan peluang mendapatkan uang dari kekayaan alam melalui program hilirisasi terbuka,tetapi butuh waktu, proses dan kerja keras, sehingga anggaran yang tersedia harus digunakan secara bijak,dan hati-hati.
Dapat dimaklumi dalam rangka merebut sebanyak mungkin suara guna memenangkan pilpres, para kandidat menempuh berbagai cara halal untuk mencapai tujuan.
Salah satu adalah dengan menawarkan janji yang hebat, menggemparkan dan menarik perhatian banyak orang, apalagi kalau janji tersebut berkaitan dengan kebutuhan dan kepentingan manusia.
Pokoknya masyarakat dibius sementara, dan dituntun untuk yakin bahwa yang disampaikan itu hebat dan luar biasa, karena itu penggagasnya harus diikuti dan dipilih.
| Opini: Banalitas Kejahatan dalam Tragedi Perdagangan Orang |
|
|---|
| Opini: KUHP Nasional Ubah Paradigma Hukum Pidana dari Lex Talionis ke Restorative Justice |
|
|---|
| Opini: Interkulturalitas, Misi dan Pilihan Gereja |
|
|---|
| Opini: Kerja yang Menghidupi Sistem Tapi Mematikan Martabat |
|
|---|
| Opini: Grooming Bukan Cinta- Pelajaran Pahit dari Buku Broken Strings |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Prabowo-dan-Gibran-di-Kertanegara-sebelum-daftar-ke-KPU.jpg)