Lewotobi Erupsi

Gunung Lewotobi Erupsi, BNPB Hadir di Flotim Tinjau Lokasi Pengungsian, Serahkan Dukungan Darurat

Kunjungan tersebut dilakukan atas arahan sekaligus mewakili Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto S.Sos., M.M., yang memiliki agenda lain di Sumedang.

Editor: Agustinus Sape
BNPB
Didamping Kalak BPBD Provinsi NTT Ambrosius Kodo (kiri), Deputi Bidang Logistik dan Peralatan (Logpal) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan hadir di Flores Timur untuk meninjau lokasi pengungsian dan memberikan bantuan darurat bagi para pengungsi sebagai dampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki, Kamis 4 Januari 2024. 

“Secara keseluruhan aman. Permakanan lengkap. Tadi saya juga sempat menggoreng pisang,” kata Lilik.

Hal serupa juga dilihat Lilik di lokasi pengungsian lain yakni di Desa Boru. Pengungsian yang tersebar di beberapa titik itu telah menampung lebih dari 2.000 jiwa. Dari dua pengungsian besar itu telah terdapat gudang yang menampung logistik dan peralatan bagi warga.

"Dua pengungsi besar sudah punya gudang logistik,” ungkap Lilik.

Baca juga: Lewotobi Erupsi, Penjabat Gubernur NTT Perintahkan Camat Salurkan Bantuan Secara Merata

Di samping itu, pelayanan kesehatan juga berjalan dengan baik. Bahkan Lilik memastikan langsung dengan pihak Dinas Kesehatan Kecamatan Wulanggitang bahwa pasokan obat-obatan telah tersedia lengkap. Lebih lanjut, posko kesehatan itu juga memberikan rujukan bagi warga yang memiliki keluhan berat kesehatan dan dapat berlaku di sejumlah rumah sakit besar di sana. Untuk yang memiliki keluhan kesehatan ringan, maka dapat dibantu dengan obat-obatan dan rawat jalan.

“Standar Operasional Prosedur (SOP) posko kesehatan di sini juga sangat baik. Jadi bila ada warga yang memiliki keluhan kesehatan ringan akan didukung dengan obat-obatan lengkap. Bagi yang memiliki keluhan berat akan diberikan rujukan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan di rumah sakit besar,” jelas Lilik.

Lebih lanjut, tim dari Dinas Sosial dan Polsek Wulanggintang juga secara berkala memberikan pelayanan psikososial bagi anak-anak maupun warga pada umumnya. Deputi Logpal pada kesempatan itu juga menyempatkan diri berdialog dengan anak-anak pengungsi. Lilik menyebut bahwa kondisi mereka sangat baik dan justru senang karena dapat berkumpul dengan teman-teman dan permakanan sangat melimpah.

“Anak-anak mengaku senang berada di pengungsian karena bisa berkumpul dengan teman-temannya. Apalagi makanan di sini juga sangat melimpah. Tidak ada tanda-tanda yang mengarah pada permasalahan psikososial. Karena Dinsos dan Polsek selalu memberikan pendampingan,” kata Lilik.

Terkait kegiatan belajar dan mengajar yang terhenti sementara karena dampak bencana, Deputi Logpal mengatakan bahwa saat ini pihak Pemda setempat tengah mempersiapkan tenda pengungsian untuk menampung para pengungsi yang menempati gedung-gedung sekolah. Sehingga jika hal itu dapat dilakukan, seluruh aktivitas belajar mengajar dapat dilanjutnkan, tentunya dengan mempertimbangkan aspek keselamatan sebagai yang utama.

"Kita siapkan pengungsian yang baru. Setelah tanggal 9 mereka bisa ditempatkan yang baru sehingga anak-anak bisa lanjut sekolah. Dengan catatan jika kondisi aman,” kata Lilik.

Dalam kunjungan tersebut, Deputi Logpal BNPB juga menyerahkan dukungan berupa Dana Siap Pakai (DSP) dari Kedeputian Bidang Penanganan Darurat BNPB senilai 250 juta rupiah, termasuk masker sebanyak 4.000 lembar, sembako 500 paket dan hygiene kit sebanyak 250 paket. Dukungan itu diserahkan Deputi kepada Pj. Bupati Flores Timur.

Penanganan Darurat Terus Dimaksimalkan

Mendampingi kunjungan kerja Deputi Logpal BNPB, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Flores Timur, Ahmad Duli mengatakan bahwa seluruh upaya penanganan darurat bencana terus dimaksimalkan oleh pemerintah daerah setempat sesuai dengan prioritas.

"Pemerintah daerah sudah berupaya semaksimal mungkin. Sesuai dengan prioritas pelayan termasuk kelompok rentan. Jika ada yang kurang akan kami sempurnkan,” kata Ahmad.

Diakui oleh Ahmad bahwa semakin hari pengungsian di beberapa titik memang mengalami peningkatan. Hal itu disebabkan oleh beberapa hal di antaranya adalah rasa kekhawatiran masyarakat terhadap aktivitas vulkanik. Suara gemuruh maupun lontaran abu vulkanik masih terjadi hingga hari ini. Dari peningkatan pengungsi itu juga berdampak pada dinamika jumlah hasil pendataan yang berbeda dari waktu ke waktu.

"Setiap hari pengungsi berdatangan terus karena gemuruh sehingga warga panik. Termasuk informasi yang membuat mereka takut,” kata Ahmad.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved