Opini

Malam Natal: Sebuah Malam yang Dikuduskan

Tidak heran malam melambangkan kepahitan, kegagalan, keputusasaan, situasi tak berdaya, kesedihan bahkan maut.

|
Editor: Dion DB Putra
@tdcom
Ilustrasi 

Sebab upaya memilih pemimpin yang unggul dan berkualitas secara demokratis gampang dipengaruhi isu-isu primordial dan kepentingan kelompok.

Di sini kualiatas dan kecerdasan bangsa kita sedang diuji, agar sanggup melewati malam gelap tanpa mimpi buruk.

Bagaimana dengan situasi hidup kita? Malam yang gelap dapat pula kita lihat dalam konteks hidup kita: penyakit, wabah pandemi yang masih belum sepenuhnya hilang, ketakutan akan masa depan, pengangguran, kehilangan pekerjaan, gagal panen, konflik dalam dunia kerja, kekhawatiran tentang pasangan atau keluarga, perceraian dan tentunya masih banyak lagi.

Akankah tidur kita harus dihantui mimpi buruk? Tidak! Malam tidak selamanya abadi. Di dalam gelapnya malam kita diundang untuk tetap merindukan cahaya.

Sebuah cahaya yang bersinar pada Malam Kudus karena Kristus Tuhan, Sang Raja Baru lahir. Hadir-Nya membawa damai dan memberikan Terang bagi bangsa-bangsa yang berjalan dalam kegelapan. Ketika Nabi Yesaya memandang jemaat Tuhan di pengasingan, dunia tampak gelap dan kelam.

Dia menjanjikan mereka terang yang bersinar dalam kegelapan. Kelahiran seorang anak di Betlehem adalah harapan yang membawa suka cita. Dialah Mesias - Penyelamat yang dijanjikan Tuhan.

Dia akan menjadi Pangeran Damai karena membawa semangat baru ke dunia. Demikianlah Malam Natal dipandang sebagai Malam Kudus - Holy Night (Inggris) atau Weih-Nachten (Jerman). Sebuah malam yang dikuduskan karena Kristus Tuhan, lahir.

Sybille Fritsch, seorang penyair, filsuf dan pegiat budaya Jerman, dalam satu lyrik lagunya pernah menulis sebagai berikut:

"Pada malam yang gelap, hari baru dimulai, dan di dalam kegelapan dunia, harapan itu mekar - Aku ingin melihat dalam kegelapan, ku ingin menemukan jalan yang benar dalam kesendirian. Aku ingin menjadi cahaya - Aku ingin menjadi cahaya saat malam membuatmu takut, untuk menemukan kata-kata tepat yang membangkitkan cint - Aku ingin menjadi cahaya“.

Lyrik lagu Sibylle Fritsch ini mengungkapkan apa yang dirayakan umat Kristen di malam “Natal”.

Bersama Yesus segenap umat Kristen merayakan kelahiran sang pembawa terang, tepat pada malam kehidupan yang mencekam.

Dia ingin menjumpai orang-orang dalam ketidakberdayaan, kerapuhan, kesedihan, kesepian, dan keputusasaan. Harapan orang-orang tertindas mekar di dalam Dia.

Dia ingin memberi umat-Nya ketenangan dan kedamaian di dalam hati. Tidak seperti damai yang dijanjikan dunia, yang dibangun atas kekuatan perang dan senjata.

Di malam Kudus, Kristus membuat malam menjadi tenang, sehingga mereka yang menerimaNya dapat tidur dalam kenyamanan. Dibebaskan dari kesibukan dan hingar bingar dunia.

Di dalam malam yang Kudus, Kristus membuat jemaatNya mampu tengelam dalam istirahat malam yang damai karena telah membuat keputusan yang tepat sepanjang hari.

Semoga Malam Kudus tidak hanya membuat hari-hari orang beriman lebih cerah, melainkan mampu menyinari pikiran dan hati demi terciptanya kehidupan dunia yang lebih baik di tahun baru 2024. (*)

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved