Opini
Malam Natal: Sebuah Malam yang Dikuduskan
Tidak heran malam melambangkan kepahitan, kegagalan, keputusasaan, situasi tak berdaya, kesedihan bahkan maut.
Oleh P. Damian Ria Pay, SVD
Katholisches Pfarramt, Pfarrgasse 11, 74722 Buchen - Jerman
POS-KUPANG.COM - Malam berarti gelap. Sebuah kondisi ketiadaan cahaya. Ketika malam mencekam hidup menjadi semakin sunyi. Pekatnya malam seringkali mewakili segala sesuatu yang membuat kita takut.
Tidak heran malam melambangkan kepahitan, kegagalan, keputusasaan, situasi tak berdaya, kesedihan bahkan maut. Karenanya ketika malam mencekam jiwa segala sesuatu gampang menjadi hitam dan kelam.
Jika Anda hidup dalam empat musim maka Anda akan lebih gampang terbawa ke dalam situasi ini. Di akhir bulan Desember, ketika banyak umat Kristen Eropa sedang mempersiapkan diri merayakan Pesta Natal dan menyambut Tahun Baru cuaca menjadi sangat dingin.

Pada saat seperti ini, kehidupan berada tepat di jantung musim dingin. Malam yang bergerak semakin dalam membuat hidup semakin sunyi, dingin dan beku.
Mari kita tarik pandangan lebih jauh. Bagaimana pandangan kita terhadap situasi dunia saat ini? Anda, saya, kita semua tentunya sepakat bahwa dunia kita saat ini sedang tidak baik-baik saja.
Malam gelap dapat mewakili pandangan kita tentang dunia saat ini. Teror, konflikt dan perang terjadi di Israel, yang bagi banyak kalangan disebut sebagai Holy Land atau Tanah Suci.
Tepat di jantung Eropa yang sekian lama dianggap sebagai barometer peradaban dunia, konflik antara Ukraina dan Rusia masih terus berlangsung.
Kita tidak tahu kapan pertikaian ini akan berakhir. Sementara itu pertikaian dan konflik di belahan dunia lain seperti Afrika dan Asiapun masih banyak terjadi.
Tragisnya konflik pada zona ini sedikit mendapat perhatian negara-negara besar di dunia. Karena peran kepentingan sering menjadi takaran penilaian dan pemahaman manusia.
Konflik dan Perang telah mengancam perdamaian dunia. Kondisi ini semakin parah karena didukung oleh pasokan senjata dari negara-negara besar.
Ribuan korban jiwa melayang percuma. Banyak warga sipil, termasuk wanita dan anak-anak mati! Akibat lain pun muncul. Harga-harga kebutuhan pokok, minyak dan gas melambung. Krisis meningkat.
Gelombang pengungsi semakin tak terbendung. Di banyak negara Eropa, termasuk Jerman sendiri, pemerintah semakin kewalahan menghadapi gelombang Anti-Semitisme (anti Yahudi) dan Xenofobia (anti orang asing).
Gambaran dunia yang semakin kelam ditandai pula dengan meningkatnya bencana alam akibat perubahan iklim, semakin melebarnya kesenjangan antara kaya dan miskin, dan bangkitnya ekstremisme sayap kanan yang justru sangat bertentangan dengan paham demokrasi.
Dalam konteks bangsa kita, yang kini sedang menjalani tahun politik, malam yang gelap bukan tidak mungkin sedang merayap.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.