Berita NTT

Beli Rokok Gunakan BLT hingga Biaya Adat Jadi Penyebab Tingginya Kemiskinan di NTT

Salah satu isu penyebab tingginya angka kemiskinan di NTT adalah masyarakat penerima bantuan langsung tunai atau BLT di NTT masih menggunakan dana

Penulis: Agustina Yulian Tasino Dhema | Editor: Eflin Rote
POS-KUPANG.COM/ASTI DHEMA
Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi NTT, Japarmen Manalu (Kedua dari kiri) saat mempresentasikan materi dalam Seminar Fiskal dan Ekonomi Regional Tahun 2023 Provinsi NTT pada Rabu, 27 September 2023. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Kepala OJK NTT, Japarmen Manalu mengungkapkan beberapa hal yang menjadi penyebab tingginya angka kemiskinan di NTT dalam Seminar Fiskal dan Ekonomi Regional Tahun 2023 Provinsi NTT di Aula Lantai 6 Gedung Keuangan Negara Provinsi NTT pada Rabu, 27 September 2023.

Salah satu poin isu penyebab tingginya angka kemiskinan di NTT adalah masyarakat penerima bantuan langsung tunai atau BLT di NTT masih menggunakan dana untuk pembelanjaan barang yang tidak bermanfaat seperti rokok dan sebagainya.

Selain itu, tingginya biaya kebutuhan adat antara lain pernikahan (belis/mahar) dan upacara kematian serta penyaluran BNPT yang tidak tepat kepada rumah tangga dengan pendapatan di atas garis kemiskinan juga menjadi penyebab tingginya angka kemiskinan.

Baca juga: Masyarakat NTT Belum Mampu Menabung, Kredit di Perbankan untuk Keperluan Rumah Tangga

Selain kedua isu tersebut, ia juga mengungkapkan beberapa poin lainnya. Secara rinci ia menjelaskan pada 2022, proporsi pekerja informal di NTT sebesar 75,24 persen dengan penduduk bekerja terbesar di sektor pertanian 49,36 persen.

Sektor pertanian di NTT tumbuh 3,77 persen di tahun 2022 dan masih menjadi sektor dengan porsi PDRB terbesar 29,97 persen di TW I 2023. Sektor pertanian tumbuh positif dan sebagian besar pekerja adalah petani, namun kemiskinan masih tinggi.

Meski demikian, nilai Tukar Petani (NTP) yang masih di bawah 100 menunjukkan daya jual hasil pertanian di NTT kurang dari daya beli petani untuk kebutuhan konsumsi.

Baca juga: OJK Perintahkan Bank Blokir Rekening Terlibat Judi Online, OJK NTT Beri Surat Pembinaan ke Bank

Sektor Pertanian di NTT juga dihadapkan dengan ancaman kekeringan pada periode Juni-Juli memasuki musim kemarau, ditandai dengan curah hujan rendah pada mayoritas wilayah, dengan risiko fenomena El Nino yang meningkat pada Semester II 2023.

Tidak hanya pola hidup dan kondisi wilayah NTT yang menyebabkan tingginya angka kemiskinan ini, disparitas Indeks pembangunan Manusia (IPM) dan tingkat pendidikan rendah juga menjadi penyebabnya.

Rata-rata lama sekolah masyarakat NTT berangsur meningkat namun masih di bawah angka nasional yaitu 8,69 tahun. IPM mengalami tren peningkatan, namun terdapat disparitas antara kota dan kabupaten. (dhe)

Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lain di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved