Artikel Kesehatan

Promosi Rokok vs Promosi Kesehatan

Meskipun sudah dicantumkan tulisan "merokok membunuhmu", tapi tetap laku. Karena berbagai upaya promosi dilakukan untuk melawan citra bahwa 'rokok itu

Editor: Ryan Nong
POS-KUPANG.COM/HO
dr. Asep Purnama, Sp.PD., dokter spesialis penyakit dalam RSUD TC. Hillers Maumere Kabupaten Sikka NTT. 

Artikel oleh dr. Asep Purnama, Sp.PD
Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD TC. Hillers Maumere

 

POS-KUPANG.COM - Produsen rokok selalu berjuang untuk mempromosikan product-nya supaya laku terjual alias banyak pembeli.

Meskipun sudah dicantumkan tulisan "merokok membunuhmu", tapi tetap laku. Karena berbagai upaya promosi dilakukan untuk melawan citra bahwa 'rokok itu tidak sehat'. Bahkan ditonjolkan citra bahwa perokok itu jantan dan gagah.

Iklan rokok terpampang di setiap baliho di beberapa sudut berbagai kota. Biasanya baliho iklan rokok mendominasi kota, hanya baliho wajah para calon legislatif yang mampu mengalahkan, apalagi di saat sekarang ini.

Mana kala omset penjualan menurun, produsen rokok tidak menyerah. Dibuatlah pertunjukan musik dan dibagikan rokok diantara para penonton. Didatangkan musisi perokok yang menjadi panutan anak muda, agar para penonton yg nota bene anak muda tsb, mengikuti gaya hidup para musisi panutan mereka, yaitu merokok.

Baca juga: Cakupan Vaksinasi Rabies di Sikka Rendah, dr. Asep Purnama Sarankan Anjing Segera Divaksin

Baca juga: Sekolah Tatap Muka Lagi di Sikka, Ini Saran Dokter Asep Purnama

Sekarang sedang menjamur podcast, dimana para host nya, dengan santai mewawancarai bintang tamunya sambil merokok, karena memang disponsori oleh produsen rokok. Hal ini tidak mungkin terjadi di media TV mainstream, yang jelas aturan main dan etikanya terkait penayangan iklan rokok.

Pada prinsipnya, produsen rokok begitu semangat dan kreatif untuk terus mempromosikan product- nya, agar laku terjual alias dibeli masyarakat.

Dan memang seperti itulah hakekat dan prinsip promosi atau marketing. Semua produsen selalu akan mempromosikan barang dagangannya agar dikenal, dipercaya dan akhirnya dibeli.

Bagaimana Promosi Kesehatan?

Prinsipnya sama. Kita sebagai produsen (pemerintah, dinas terkait, stake holder terkait) harus melakukan promosi agar product kita 'dibeli' masyarakat. Apa product kita? Untuk program rabies ada 2 "barang dagangan" kita, yaitu pesan atau himbauan agar: 1). Menjadi pemilik anjing yg bertanggung jawab dengan memberi vaksin secara teratur dan mengandangkannya, 2). Mencuci luka setelah digigit dengan sabun & air mengalir dan segera ke Puskesmas untuk mendapatkan vaksin sesuai indikasi.

Di"beli" disini maksudnya, masyarakat mau mengikuti 2 pesan utama yg kita promosikan diatas. Kalau sampai masyarakat belum mau membeli barang dagangan yg kita tawarkan, kita harus mencari cara lain yg lebih baik. Mencari cara yg lebih kreatif dan lebih cocok dengan sasaran pembeli product kita. Bukan kita ngambek atau marah dengan calon pembeli kita.

Terkadang kita sebagai produsen ngedumel, "Sudah kasih tahu supaya segera ke Puskesmas jika digigit anjing, tapi ternyata tidak datang. Terserah kalian, tanggung sendiri akibatnya jika tetap bandel".

Sebagai Penjual, kita tidak boleh menyalahkan Konsumen. Kita tidak boleh menyalahkan masyarakat yg tidak mengikuti (membeli) pesan (product) yg kita tawarkan. Tugas kita harus tetap fokus melakukan promosi product kita, agar dibeli konsumen.

Sama seperti produsen rokok, yang senantiasa berjuang supaya rokoknya dibeli konsumen. Kalau omset penjualan menurun, bukan menyalahkan pembeli. Tapi mencari strategi baru agar para pelanggan mau membeli product rokok mereka.

Baca juga: Prodi Kesmas FKM Undana Kupang Edukasi Anak-anak Sekolah Soal Kesehatan

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Komentar

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved