Berita Sikka
Sekolah Tatap Muka Lagi di Sikka, Ini Saran Dokter Asep Purnama
Untuk siswa usia 12 tahun ke atas juga segera dilakukan vaksinasi. Jika semua komponen sekolah telah divaksinasi
Penulis: Aris Ninu | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Aris Ninu
POS-KUPANG.COM, MAUMERE-KBM tatap muka bagi siswa di Kabupaten Sikka di masa PPKM Level 3 telah dimulai, Senin, 30 Agustus 2021 pagi dan menerapkan prokes ketat.
Dokter Asep Purnama yang bertugas di RSUD Dr.TC.Hillers Maumere angkat bicara agar pihak sekolah melakukan antisipasi penyebaran virus Covid-19.
Permintaah dokter Asep ini tentunya berdasarkan beberapa kejadian di Kota Maumere yang menimpa siswa hingga ada kluster baru.
“Kita tentu masih ingat kejadian klaster penularan Covid 19 di Seminari BSB Maumere beberapa waktu lalu. Alhamdulilah, Puji Tuhan, kita bersyukur, berkat kerja sama berbagai pihak akhirnya semua bisa diselesaikan dengan “Happy Ending” tanpa korban jiwa. Hendaknya ini bisa menjadi pembelajaran kita semua saat kembali menjalani sekolah tatap muka. Jangan sampai kejadian "yang tidak diinginkan" ini terjadi kembali. Kita harus mengupayakan agar penularan Covid 19 secara masif di sekolah tidak terjadi lagi,” kata dokter Asep dalam rilisnya kepada POS-KUPANG.COM di Maumere, Senin, 30 Agustus 2021 sore.
Dokter Asep malah memberikan cara dan upaya bagaimana pencegahan Covid-19 yang harus dilakukan pihak sekolah saat KBM tatap muka.
Baca juga: Gadis Sikka dalam Balutan Motif Agi Pelikanu Lestarikan Kekayaan Budaya Lokal
Dokter Asep meminta pertama,prokes 3 M dilakukan secara disiplin. Tim Satgas Sekolah melakukan edukasi dan pengawasan agar 3 M benar-benar bisa terlaksana dengan benar.
Pihak sekolah harus memastikan bahwa 3 M benar-benar dilaksanakan secara disiplin. Guru benar-benar bisa menjadi panutan dalam memakai masker yang benar dan konsisten.
“Sangat mudah mengatakan bahwa protokol kesehatan akan dilakukan dengan tegas tapi jangan sampai implementasinya tidak dilaksanakan dengan tuntas,” ujarnya.
Kedua, vaksinasi segera pada semua guru dan karyawan sekolah. Untuk siswa usia 12 tahun ke atas juga segera dilakukan vaksinasi. Jika semua komponen sekolah telah divaksinasi maka akan lebih sulit terjadi penularan C19 .
Ketiga, pemeriksaan rapid antigen Covid-19 (RAC) secara berkala untuk memastikan apakah prokes sudah berjalan dengan baik atau belum.
Jika saat pemeriksaan RAC ada yg positif berarti masih ada penularan diantara siswa atau guru di sekolah atau bisa juga terjadi penularan antara siswa/guru dengan keluarganya di luar sekolah.
“Jika ada yang tertular berarti prokes belum dilaksanakan dengan baik. Jadi, pemeriksaan RAC bisa dipakai sebagai salah satu sarana evaluasi apakah prokes sudah dilakukan dengan disiplin atau tidak di suatu sekolah,” paparnya.
Keempat, pemeriksaan rapid antigen Covid-19 secara berkala juga diperlukan untuk mendeteksi secara dini siapa saja yg sudah tertular C19 di sekolah.
Baca juga: AHP dan Bupati Sikka Serahkan Beasiswa PIP Bagi 11.849 Pelajar SD Hingga SMA
“Kemudian, siswa atau guru yang tertular C19 segera dilakukan isolasi dan ditelusuri semua kontak eratnya dalam rangka untuk memutus mata rantai penularan. Dengan deteksi dini maka diharapkan penularan segera dihentikan, sehingga penularan secara masif hingga lebih dari 100 orang-yang terjadi di Seminari BSB- tidak terjadi lagi.Yang menjadi masalah adalah biaya pemeriksaan RAC secara berkala. Kalau diperiksa semua siswa, tentu akan mahal. Solusinya, dilakukan pemeriksaan secara random atau acak. Katakanlah satu kelas yang berisi 20 orang, bisa diperiksa 5 orang saja. Jika salah satu diantara 5 orang tersebut RAC positife maka dilakukan tracing (telusur) terhadap semua siswa satu kelas. Untuk tracing ini tentu menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah (Satgas Covid) seperti prosedur yang berlaku selama ini.