Berita Alor
Upaya Tingkatkan Mutu, Yapenkris Pingdoling Alor Rebranding Sekolah GMIT
agar anggota DPR yang dipilih dapat mengusulkan dana APBN untuk sekolah swasta yang ada di daerah.
Penulis: Rosalia Andrela | Editor: Rosalina Woso
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Else Nago
POS-KUPANG.COM, KALABAHI - Yayasan Pendidikan Kristen atau Yapenkris Pingdoling Alor melakukan rebranding sekolah-sekolah GMIT yang ada di Kabupaten Alor.
Rebranding ini sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan mutu dan juga memperbaiki citra sekolah-sekolah Kristen yang ada di Kabupaten Alor.
Bupati Alor, Drs. Amon Djobo, M.A.P. saat pembukaan kegiatan, menuturkan sejarah panjang berdirinya sekolah GMIT di Kabupaten Alor. Dikatakan bahwa sekolah GMIT pertama kali berdiri di Kabupaten Alor pada tahun 1911 dan pada tahun 2023 genap berusia 112 tahun.
"Sekolah Kristen di daerah-daerah sekalipun usianya begitu panjang, tidak berbanding lurus dengan mutu yang dicapai. Kita harus akui bahwa meskipun umur sudah 100 tahun lebih, tapi dari segi SDM sekolah kita masih bergantung sepenuhnya terhadap Aparatur Sipil Negara baik ASN maupun P3K," tuturannya, Senin 10 Juli 2023 di Aula GMIT Pola Tribuana Kalabahi, Kabupaten Alor.
Baca juga: Dinas Perdagangan Alor Adakan Sistem Undian Penentuan Lapak Pasar Kadelang
Lebih lanjut, mantan siswa sekolah dasar GMIT itu berujar bahwa regulasi tentang tenaga kontrak guru di pusat tidak menguntungkan Kabupaten Alor. Demikian Bupati Amon menentang regulasi guru kontrak dirumahkan, mengingat sekolah-sekolah di Kabupaten Alor sangat membutuhkan tenaga pengajar yang mumpuni.
"Saya dengar bulan Oktober nanti semua guru kontrak akan dirumahkan. Tetapi saya bilang tidak, kita angkat 3.117 tenaga kontrak. Kita ini bukan sama dengan di Jakarta, Jawa, atau Sumatra. Kita ini pulau tersendiri, kalau ada pemberhentian guru kontrak saya katakan tidak. Alor harus tetap ada guru kontrak," tegas Bupati dua periode ini.
Amon juga mengatakan bahwa tidak boleh ada sekolah GMIT yang dinegerikan serta menyampaikan bahwa gereja harus berani berpolitik, agar anggota DPR yang dipilih dapat mengusulkan dana APBN untuk sekolah swasta yang ada di daerah.
"Gereja ini satu bahtera, satu kapal yang harus memiliki lisensi yang jelas. Kalau tidak punya lisensi itu disebut dengan kapal yang tidak punya arah dan tujuan yang jelas. Saya katakan sekali lagi orang Kristen dan sekolah GMIT di daerah ini bukan penumpang gelap," katanya.
Ia juga mengajak semua pihak terutama Sinode GMIT untuk memperhatikan sekolah Kristen GMIT di Kabupaten Alor.
Dirinya berharap dengan adanya rebranding ini, dapat menghantarkan generasi muda Alor ke arah yang lebih baik.
Pada kesempatan tersebut hadir pula Asisten II Setda Provinsi, Ganef Wurgiyanto mewakili Gubernur NTT. Ganef menyampaikan bahwasannya Pemerintah Provinsi NTT mendukung kegiatan launching rebranding Sekolah GMIT yang dilakukan oleh Yapenkris Pingdoling Alor.
Baca juga: Pimpin Sertijab Dua PJU dan Lima Kapolres, Kapolda NTT Minta Amankan Pemilu 2024 dan Berantas TPPO
"Kegiatan ini sangat bermanfaat karena menjadi awal GMIT akan merubah wajah sekolah Kristen GMIT yang ada di Kabupaten Alor. Saya mewakili pemerintah Provinsi mengajak yayasan-yayasan sekolah kita bersama untuk berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Alor," ujarnya.
Ganef juga menjelaskan bahwa meskipun dana APBN yang dikucurkan kurang, namun Yayasan bisa melakukan konsolidasi dan koordinasi dengan pemerintah provinsi untuk memfasilitasi sekolah.
"Kami berharap langkah rebranding ini menjadi pemodelan yang bagus dan dapat bermanfaat bagi guru dan siswa," katanya.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.