Unwira Kupang

Unwira Kupang Kerjasama IAI NTT dan Sinode GMIT Bangun Pastori Contoh Tahan Bencana di Sabu Raijua

Pemerintah dan Gereja, diajak untuk saling membantu dan bekerja sama dalam melaksanakan proses pembangunan di daerah

Penulis: Ray Rebon | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG.COM/HO-HUMAS UNWIRA
MoU - Proses penandatanganan MoU oleh Rektor Unwira dan Ketua Sinode Gmit serta Ketua IAI NTT dalam membangun Pastori dan Gereja Contoh tahan bencana di Kab Sabu Raijua. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ray Rebon

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) NTT dan Sinode Gmit membangun Pastori contoh tahan bencana di Kabupaten Sabu Raijua, Provinsi NTT.

Bentuk kerjasama tiga pihak itu dibentuk dalam acara penandatanganan Memoranrum of Understanding (MoU), usai melaksanakan MoU, tim kerja (Fakultad Teknik Unwira), IAI NTT dan Sinode Gmit membangun 2 gereja contoh dan 4 pastori contoh.

Ada 2 Pastori Contoh di Kabupaten Sabu Raijua, yakni Pastori Jemaat Persaudaraan Wagga Ae Klasis Sabu Barat dan Pastori Jemaat Ephata Nada Klasis Sabu Timur. Keduanya telah selesai dikerjakan dan diserahkan kepada jemaat untuk digunakan.

Peresmian dan penyerahan Pastori Contoh yang pertama itu dilaksanakan pada Kamis 8 Juni 2023, bertempat di Jemaat Persaudaraan Wagga Ae Klasis Sabu Barat.

Baca juga: BEM Unwira Kupang Gelar Seminar Wujudkan Pemilu 2024 yang Aspiratif dan Demokratis

Peresmian dan penyerahan Pastori Contoh itu dihadiri oleh Ketua Sinode Gmit, Pdt. Dr. Mery L. Y. Kolimon,  Wakil Bupati Sabu Faijua, Yohanis Uly Kale,  Pater Dr. Philipus Tule, SVD., Rektor UNWIRA, Ir. Robertus Mas Rayawulan, ST., MT., Ketua IAI NTT dan Budhi Benyamin Lily, ST., MT., dosen Unwira sekaligus arsitek Pembangunan Gereja Contoh dan Pastori Contoh serta para pendeta GMIT, dan Jemaat Persaudaraan Wagga Ae Klasis Sabu Barat.

Dalam sambutan Wabup Sabu Raijua, Yohanis Uly Kale mengatakan, pemerintah dan Gereja harus bekerja sama dalam menjalankan pembangunan. 

"Semua bentuk pembangunan tidak terjadi begitu saja, tetapi semuanya itu ada karena kehendak Tuhan. Tuhan mengirimkan orang-orang terbaiknya untuk membantu kita di sini. Jadi, kita semua, Pemerintah dan Gereja, diajak untuk saling membantu dan bekerja sama dalam melaksanakan proses pembangunan di daerah kita ini," tutur Yohanis.

Sementara itu Rektor Unwira, Pater Dr. Philipus Tule, SVD mengatakan bahwa Pimpinan Unwira sangat menghargai dan berterima kasih kepada GMIT yang telah mau bekerja sama dengan Unwira.

"Kalau dulu, kita hanya tukar menukar ilmu di ruang kuliah, tetapi sekarang kita langsung terlibat dalam kehidupan masyarakat. Memang, kita harus menjadi seperti Yesus yang bisa menjadi gembala yang baik bagi domba-domba-Nya," ungkap Rektor UNWIRA yang biasa dipanggil Pater Lipus.

Baca juga: BEM Unwira Kupang Gelar Seminar Wujudkan Pemilu 2024 yang Aspiratif dan Demokratis

Selain itu, Pater Lipus, ahli dan dosen Filsafat Islam (Islamologi) Unwira mengatakan bahwa, sekarang semua orang harus membangun gereja dan pastori dengan kekuatan bersama, tanpa bergantung secara berlebihan kepada misionaris zaman dulu.

Sementara itu, dalam Suara Gembala-nya, Pdt. Dr. Mery L. Y. Kolimon, Ketua Majelis Sinode GMIT mengatakan bahwa persaudaraan adalah batu karang dalam menjalankan kehidupan.

"Jemaat Persaudaraan Wagga Ae Klasis Sabu Barat telah menjadi contoh ketekunan yang menghasilkan sesuatu yang baik. Sebab, semua pekerjaan menjadi ringan karena dijalankan secara bersama-sama," tuturnya.

Selain itu, Pdt. Mery  juga menjelaskan alasan pembangunan Rumah Pastori ialah ketika salah satu pendeta dan dua anaknya meninggal saat bencana Siklon Tropis Seroja di salah satu Rumah Pastori.

Menurut Pdt. Mery, kejadian itu sangat menyayat hati dan menggugah Majelis Sinode GMIT untuk membangun Pastori Contoh dan Gereja Contoh Tahan Bencana. 

Halaman
12
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved