Opini
Opini Eduardus Johanes Sahagun: Potret Keluarga Berisiko Stunting di NTT
Stunting adalah salah satu masalah genting, sehingga pemerintah menargetkan prevalensi stunting harus turun menjadi 14 persen.
Dari sini, jelaslah bahwa bentuk sosialisasi BKKBN kepada masyarakat tidak hanya mengenai program Keluarga Berencana (KB), tetapi juga ditambah dengan sosialisasi tentang pemberdayaan ketahanan keluarga, sebab keluarga memiliki peran penting dalam pembangunan, di mana persemaian nilai-nilai agama, kemanusiaan, keadilan sosial dan nilai moral secara praktis akan bertumbuh dalam keluarga.
Stunting bukan persoalan mengenai panjang/tinggi badan menurut umur. Panjang atau tinggi badan seorang anak itu hanya merupakan ‘tanda’ dari sebuah masalah besar di baliknya, yakni masalah kualitas kognisi/otak anak di masa mendatang.
Karena itu, perlulah kita menjaga agar anak-anak kita tidak mengalami stunting. Cara terbaik yang bisa dilakukan dalam upaya pencegahan adalah dimulai dari dalam keluarga kita masing-masing. Keluarga sebagai tempat semua nilai dan potensi anak dikembangkan, haruslah tidak terjerat masalah kesehatan, khususnya stunting.
Mungkin saja saat ini kita sedang masuk dalam kategori keluarga berisiko stunting. Akan tetapi, kita masih punya waktu untuk terus berbenah, menjaga agar potensi stunting dalam keluarga kita itu hilang bahkan terputus selamanya. Inilah harapan besar kita semua sebagai satu keluarga besar NTT.
Keluarga NTT tidak boleh menjadi keluarga yang berisiko stunting, tetapi harus menjadi keluarga yang ber-aktor penting dalam pencegahan stunting. Salam Sehat. Cegah Stunting itu Penting! (Penulis adalah Widyaiswara pada Perwakilan BKKBN NTT)
Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.