Opini
Opini Eduardus Johanes Sahagun: Potret Keluarga Berisiko Stunting di NTT
Stunting adalah salah satu masalah genting, sehingga pemerintah menargetkan prevalensi stunting harus turun menjadi 14 persen.
Pendampingan pada masa-masa tersebut merupakan upaya agar segenap intervensi sensitive maupun intervensi spesifik yang diberikan dapat dipastikan sampai kepada penerima manfaat dan mempunyai dampak nyata dengan menurunnya angka prevalensi stunting.
Sebagai ketua percepatan penurunan stunting, BKKBN tentu lebih banyak bekerja dalam ranah intervensi sensitif. Intervensi sensitif merupakan kegiatan yang berhubungan dengan penyebab tidak langsung stunting yang umumnya berada di luar persoalan kesehatan.
Intervensi sensitif terbagi menjadi 4 jenis yaitu penyediaan air minum dan sanitasi, pelayanan gizi dan kesehatan, peningkatan kesadaran pengasuhan dan gizi, serta peningkatan akses pangan bergizi.
Baca juga: Terima Bantuan Penanganan Stunting dari Raffi Ahmad, Lurah Oepura Ucap Terima Kasih
Di NTT sendiri, berdasarkan hasil Pendataan Keluarga Tahun 2021 (PK-21) yang dilakukan BKKBN, dan sudah dilakukan pemuktahiran data keluarga di tahun 2022, diketahui bahwa jumlah keluarga sasaran yang patut didampingi sebanyak 639.998 keluarga. Di mana, sasaran yang terkategori keluarga berisiko stunting sebanyak 431.247 keluarga.
Jika dilakukan penapisan, maka diperoleh keluarga berisiko stunting yang memiliki fasilitias kesehatan (jamban/sanitasi) yang tidak sehat/buruk di NTT sebanyak 271.027 keluarga.
Ditambah lagi dengan Pasangan Usia Subur (PUS) terkategori dalam ‘4Terlalu’ (4T) yang masih cukup tinggi. Yang dimaksud dengan 4T adalah Terlalu Muda, Terlalu Tua, Terlalu Dekat, Terlalu Banyak.
Terlalu Muda, misalnya Ibu hamil pertama usia kurang dari 21 tahun secara fisik kondisi rahim dan panggul belum berkembang secara optimal.
Terlalu Tua, misalnya ibu hamil pertama pada usia kurang lebih 35 tahun dapat menyebabkan kematian pada ibu dan bayinya.
Terlalu Dekat, yang dimaksud di sini adalah jarak antara kehamilan pertama dengan berikutnya kurang dari 2 tahun yang menyebabkan dapat menghambat proses persalinan seperti gangguan kekuatan kontraksi, kelainan letak, dan posisi janin.
Baca juga: Angka Stunting di Kabupaten Sumba Timur Turun
Terlalu Banyak (anak), misalnya ibu pernah hamil dan melahirkan lebih dari 2 kali yang menyebabkan dapat menghambat proses persalinan, seperti gangguan kontraksi, kelainan letak dan posisi janin, perdarahan pasca persalinan.
Keluarga kita mungkin bisa masuk dalam kelompok berisiko stunting jika PUS-nya bukan merupakan peserta KB modern. Program BKKBN dalam upaya mengatasi agar keluarga kita tidak masuk dalam kategori keluarga berisiko stunting adalah dengan mengatur kehamilan, sehingga jarak kelahiran pun teratur.
Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menggunakan KB modern. Jika melihat data PK-21, diketahui bahwa jumlah keluarga di NTT yang belum menggunakan KB modern sebanyak 350,096 keluarga.
Angka ini masih tergolong cukup besar, sehingga perlu kerja ekstra dari BKKBN NTT dan semua mitra terkait agar PUS yang termasuk dalam 4T dan tidak menggunakan KB modern, bisa segera mendapat Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dari Bidan maupun Penyuluh KB (PKB) di lapangan.
Selain PKB, BKKBN juga memiliki tenaga lini lapangan bernama Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terdiri dari Bidan, Kader TP PKK dan Kader KB.
Ketiga orang dalam tim ini memiliki tugas mendampingi semua sasaran yang terkategori dalam keluarga berisiko stunting. Ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Butuh kerja sama lintas sektor agar keluarga NTT tidak berisiko melahirkan anak stunting.
Baca juga: Keluarga Penerima Manfaat Minta Pos Kupang Terus Selenggarakan Program Cegah Stunting
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.