Opini
Opini Leta R Levis: Petani Milenial Ancaman Masa Depan Pertanian
Para petani milenial yang telah berhasil dan tekun dalam berusaha tani didekati dan dikunjungi oleh pemerintah.
POS-KUPANG.COM - Sektor pertanian seharusnya menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi di NTT sebab kontribusi sektor ini terhadap PDRB NTT tertinggi dibandingkan sektor ekonomi lainnya, yakni 29,17 persen.
Namun besarnya kontribusi ini diprediksi akan terus menurun yang disebabkan berbagai faktor seperti faktor sumber daya petani, pemanasan global, alih fungsi lahan, berkembangnya sektor ekonomi kreatif, menurunnya minat kaum mileneal pada sector pertanian serta alasan lainnya.
Salah satu tantangan pembangunan pertanian di NTT adalah masalah keterbatasan sumber daya manusia yakni petani. Sebab, rata-rata umur petani saat ini di atas 50 tahun.
Kondisi petani seperti ini biasanya rendah dalam hal, antara lain; Pertama, keinovatifan artinya kemampuan mereka pengadopsi inovasi atau teknologi sangat rendah.
Berdasarkan hasil penelitian, dari aspek keinovatifan, rata-rata petani di NTT berada dalam kategori ‘late majority’ atau penganut lambat.
Karakter petani seperti ini sulit menerima inovasi, ketergantungan kepada pihak pemerintah atau bantuan-bantuan lainnya sangat tinggi, bersifat konsumtif, tidak cukup memiliki sumber daya alam seperti lahan, bekerja semangat jika ada bantuan tetapi ketika bantuan dihentikan mereka cenderung kembali ke kondisi semula.
Baca juga: Opini Ismail Sulaiman: Bersama BRIN Menenun Pengetahuan Lokal
Kedua, kreativitas, petani hanya menanam tanaman secara monoton, monokultur dan sangat bergantung pada kemurahan alam.
Ketiga, bersifat lokalit artinya, orientasi mereka hanya kepada lingkungan sekitar mereka, tidak ada keinginan untuk maju seperti petani-petani di tempat lain, tidak memiliki akses ke luar lingkungannya dalam kaitannya dengan berusahatani.
Petani Milenial belum berkontribusi secara signifikan terhadap PDRB NTT
Dikatakan sebagai petani milenial jika umur petani berkisar antara 24 tahun sampai 39 tahun.
Walaupun sampai saat ini, peranan petani milenial belum berkontribusi besar terhadap PDRB daerah ini, namun untuk mengantisipasi kualitas sumber daya petani seperti tersebut di atas, maka cara satu-satunya adalah ‘menciptakan’ para petani milenial agar pembangunan pertanian berkelanjutan.
Pada dasarnya petani milenial memiliki karakter hampir 100 persen berbanding terbalik dengan para petani umur 50-an tahun ke atas terutama dalam penggunaan internet dan media social. Petani milenial identik dengan ‘cyber peasant’ dan ‘cyber farmers’.
Namun faktanya, petani milenial ini jumlahnya belum sesuai harapan. Hasil sensus pertanian tahun 2018, menunjukkan bahwa jumlah penduduk NTT yang bekerja pada sector pertanian dalam arti luas sebanyak 1.402.071 orang, atau 51,43 persen dari jumlah penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja di NTT dan menjadi petani sebanyak 942.455 orang, tetapi menjadi petani milenial hanya 71.754 orang.
Baca juga: Opini Peter Tan: Politik Identitas dan Populisme Islam di Indonesia
Persentase penggunaan internet paling rendah di Kabupatena TTS yakni hanya 3 persen. Validitas angka ini diragukan sebab jika benar maka jumlah petani milenial, rata-rata per kabupaten/kota sebanyak 3.261 orang.
Seharusnya, kalau jumlah petani mileneal per kabupaten/kota sebanyak angka tersebut, maka pertanian di NTT sudah sangat maju tetapi faktanya rata-rata produksi jagung masih berkutat 2,71 ton per hektar dan padi 3,1 ton per hektar.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.