Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 12 Maret 2023, Saat Air Jadi Mata Air

Renungan Harian Katolik berikut ditulis oleh Bruder Pio Hayon SVD dengan jdudul Saat Air Jadi Mata Air.

|
Editor: Agustinus Sape
FOTO PRIBADI
RENUNGAN - Bruder Pio Hayon SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik untuk hari Minggu 12 Maret 2023 dengan judul Saat Air Jadi Mata Air. 

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik berikut ditulis oleh Bruder Pio Hayon SVD dengan jdudul Saat Air Jadi Mata Air.

Bruder Pio Hayon menulis Renungan Harian Katolik ini dengan merujuk bacaan pertama dari Kitab Keluaran 17: 3-7, bacaan kedua Roma. 5: 1-2.5-8; dan bacaan Injil Yohanes 4: 5-42.

Di akhir Renungan Harian Katolik ini disediakan pula teks lengkap bacaan Minggu 12 Maret 2023 beserta mazmur tanggapan dan bait pengantar Injil.

Ibu Bapak, saudari/a terkasih dalam Kristus.

Salam damai sejahtera untuk kita semua. Hari Minggu ini kita memasuki masa Prapaskah III.

Bacaan-bacaan yang kita dengar dan renungkan pada hari ini berbicara tentang hidup, air, dan air hidup itu sendiri.

Bacaan pertama dari kitab keluaran berkisah tentang bangsa Israel yang mengeluh kepada Musa karena mereka kehausan di padang gurun yang luas itu.

Tak bisa disangkal bahwa umat Israel itu mengeluhkan air. Mereka bisa mati karena kehausan. Dan bangsa Israel mulai memberontak melawan Musa yang telah membawa mereka keluar dari Mesir dan memasuki padang gurun yang gersang.

Akhirnya Musa lalu berdoa kepada Allah dan akhirnya mereka mendapatkan air dengan tongkat Musa yang dipukul di wadas dan keluarlah air.

Bangsa Israel mendapatkan air untuk minum.

Dalam bacaan kedua, dalam surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma, St. Paulus menegaskan kembali tentang iman kita karena kita dibenarkan karena iman kita kepada Tuhan dalam damai sejahtera bersama Kristus.

Dalam nama itulah kita memperoleh kasih karunia dan oleh kasih karunia itu kita dimampukan untuk berdiri dan bermegah dalam pengharapan dan memperoleh kemuliaan Allah.

Yesus Kristus menjadi sentral iman dan pengharapan kita akan Allah.

Sedangkan dalam Injil Yohanes, Yesus dikisahkan berjumpa dengan perempuan Samaria di sumur Yakub. Perjumpaan Yesus dengan perempuan itu lalu membawa hidup baru dalam diri perempuan Samaria itu.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 12 Maret 2023, Tuhan Meruntuhkan Tembok Prasangka

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus.

Kisah perjalanan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir dan sampai ke padang gurun adalah sebuah perjalanan yang panjang dan melelahkan.

Itu juga bagian dari sebuah perjalanan iman bangsa Israel sebagai umat pilihan Yahwe.

Dan ketika mengalami goncangan iman karena mereka berhadapan dengan padang gurun yang tidak ada air atau sumber mata air, mereka mulai memberontak, termasuk berontak terhadap Allah.

Begitu jugalah kita. Ketika perjalanan iman kita mengalami padang gurun atau kehausan rohani, kita kadang atau sering kali memberontak atau memarahi Allah karena kita seperti kehabisan “air” kerohanian iman kita.

Kita cenderung untuk menghakimi dan mempersalahkan orang lain.

Seperti bangsa Israel itu, saat di padang gurun dan mereka kehausan dan tidak ada air dan sumber mata air, mereka lalu memberontak dan menghakimi Musa dan Yahwe dengan mempertanyakan “mengapa membawa mereka keluar dari Mesir dan harus mati kehausan di padang gurun ini”.

Mereka mempersalahkan Musa karena telah membawa mereka keluar dari Mesir. Mereka menghakimi Yahwe karena membiarkan mereka mati kehausan di padang gurun tanpa air untuk diminum atau sumber mata air.

Itu kecenderungan manusiawi kita. Gampang sekali mempersalahkan atau menghakimi Tuhan atau orang lain ketika iman kita sendiri sudah mulai goyah dan rapuh.

Makanya St. Paulus mengingatkan kita untuk selalu menaruh iman kepada Yesus Kristus yang menjadi sumber kasih karunia dalam Allah.

Karena Yesus adalah harapan iman kita dalam Allah sumber kehidupan.

Dan itu tergambar dalam kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria yang tak mengenal Yesus.

Namun dalam percakapan itu lalu perempuan itu akhirnya menemukan Yesus sebagai sumber air kehidupan.

Perjumpaan dengan Yesus itu berawal dari kerinduan untuk minum air dan kemudian percakapan itu berlanjut sampai proses pengakuan wanita tentang siapakah dirinya yang sebenarnya.

Pengakuan dirinya dengan segala keberdosaannya dan akhirnya membuat dia pun mengenal Yesus sebagai Mesias.

Perjumpaannya dengan Yesus membawa dia kepada pengenalan akan Yesus sang Mesias itu dan membuat dia pun membawa berita itu ke orang-orang di Samaria dan akhirnya banyak orangpun percaya kepada Yesus.

Perjumpaan dengan Yesus harus membawa kita kepada kebenaran iman akan Dia dan mewartakannya kepada orang lain.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 12 Maret 2023, Makna Perjumpaan di Sumur Yakub

Saudari/a yang terkasih dalam Kristus.

Pesan untuk kita, pertama, kecenderungan manusia adalah selalu menghakimi atau mempersalahkan Tuhan dan sesama saat imannya rapuh.

Kedua, selalu berpaling kepada Yesus sebagai sumber kasih karunia di dalam Allah.

Ketiga, perjumpaan dengan Yesus harus membawa perubahan dalam diri kita yakni semakin mendalam pengenalan kita akan Yesus, dan perubahan dalam diri serta mewartakan kasihNya kepada orang lain.

Teks Lengkap Bacaan 12 Maret 2023

BACAAN - Ilustrasi Alkitab Katolik. Silakan membaca teks lengkap bacaan Renungan Harian Katolik Minggu 12 Maret 2023.
BACAAN - Ilustrasi Alkitab Katolik. Silakan membaca teks lengkap bacaan Renungan Harian Katolik Minggu 12 Maret 2023. (Tokopedia)


Bacaan Pertama: Keluaran 17:3-7

"Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum."

Bacaan dari Kitab Keluaran:

Sekali peristiwa, setelah bangsa Israel melewati padang gurun Sin, dan berkemah di Rafidim, kehausanlah mereka di sana. Maka bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata, “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir untuk membunuh kami, anak-anak dan ternak kami dengan kehausan?”

Lalu berseru-serulah Musa kepada Tuhan, katanya, “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!”

Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa, “Berjalanlah di depan bangsa itu, dan bawalah serta beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga tongkatmu yang kaupakai memukul Sungai Nil, dan pergilah.

Maka Aku akan berdiri di depanmu di atas gunung batu di Horeb; pukullah gunung batu itu, dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.

Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel. Maka dinamailah tempat itu Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar, dan oleh karena mereka telah mencobai Tuhan dengan mengatakan, “Adakah Tuhan di tengah-tengah kita atau tidak?”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U: Syukur Kepada Allah.

Mazmur Tanggapan: Mzm. 95:1-2.6-7.8-9

Refr. Singkirkanlah penghalang Sabda-Mu, cairkanlah hatiku yang beku, dan bimbinglah kami di jalan-Mu.

1. Marilah kita bernyanyi-nyanyi bagi Tuhan bersorak-sorai bagi Gunung Batu keselamatan kita. Biarlah kita menghadap wajah-Nya dengan lagu syukur, bersorak-sorailah bagi-Nya dengan nyanyian mazmur.

2. Masuklah, mari kita sujud menyembah, berlutut di hadapan Tuhan yang menjadikan kita. Sebab Dialah Allah kita; kita ini umat gembalaan-Nya serta kawanan domba-Nya.

3. Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara-Nya, janganlah bertegar hati seperti di Meriba, seperti waktu berada di Masa di padang gurun, ketika nenek moyangmu mencobai dan menguji Aku, padahal mereka melihat perbuatan-Ku.

Bacaan Kedua: Roma 5:1-2.5-8

"Kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita."

Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Roma:

Saudara-saudara, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk ke dalam kasih karunia Allah.

Di dalam kasih karunia itu kita berdiri dan bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati.

Tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.

Demikianlah Sabda Tuhan.

U: Syukur Kepada Allah.

Bait Pengantar Injil: Yohanes 4:42.15

Refr. Terpujilah Kristus Tuhan, Raja mulia dan kekal.

Tuhan, Engkau benar-benar Juruselamat dunia. Berilah aku air hidup, supaya aku tidak haus lagi.

Bacaan Injil: Yohanes 4:5-42

"Mata air yang memancar sampai ke hidup yang kekal."

Inilah Injil suci menurut Yohanes:

Sekali peristiwa sampailah Yesus ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar, dekat tanah yang dahulu diberikan Yakub kepada anaknya, Yusuf. Di situ terdapat sumur Yakub.

Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah perempuan Samaria hendak menimba air.

Kata Yesus kepadanya, “Berilah Aku minum!” Sebab murid-murid Yesus telah pergi membeli makanan.

Maka kata perempuan Samaria itu kepada-Nya, “Masakan Engkau, seorang Yahudi, minta minum kepadaku, seorang Samaria?” Maklumlah orang Yahudi tidak bergaul dengan orang Samaria.

Jawab Yesus kepadanya, “Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapa Dia yang berkata kepadamu ‘Berilah Aku minum’, niscaya engkau telah meminta kepada-Nya, dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup.”

Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tidak punya timba dan sumur ini amat dalam; dari manakah Engkau memperoleh air hidup itu?

Adakah Engkau lebih besar daripada bapa kami Yakub, yang memberikan sumur ini kepada kami dan ia sendiri telah minum dari dalamnya, ia beserta anak-anak dan ternaknya?”

Jawab Yesus kepadanya, “Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi!” Tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya ia tidak akan haus untuk selama-lamanya.

Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai ke hidup yang kekal.”

Kata perempuan itu kepada-Nya, “Tuhan, berilah aku air itu, supaya aku tidak haus, dan tidak usah datang lagi ke sini untuk menimba.”

Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, panggillah suamimu dan datanglah ke sini.” Kata perempuan itu, “Aku tidak mempunyai suami.” Kata Yesus kepadanya, “Tepat katamu bahwa engkau tidak mempunyai suami, sebab engkau sudah mempunyai lima suami, dan yang sekarang ada padamu pun bukanlah suamimu.

Dalam hal ini engkau berkata benar.” Kata perempuan itu kepada Yesus, “Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi.

Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah.”

Kata Yesus kepadanya, “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.

Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, tetapi kami menyembah yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi.

Tetapi saatnya akan datang, dan sudah tiba sekarang, bahwa para penyembah yang benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran, sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah yang demikian.

Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam Roh dan kebenaran.”

Jawab perempuan itu, “Aku tahu, bahwa Mesias yang disebut juga Kristus akan datang; apabila datang, Ia akan memberitakan segala sesuatu kepada kami.”

Kata Yesus kepadanya, “Akulah Dia, yang sedang bercakap-cakap dengan engkau!” Pada waktu itu datanglah murid-murid Yesus, dan mereka heran bahwa Yesus sedang bercakap-cakap dengan seorang perempuan.

Tetapi tidak seorang pun berkata, “Apa yang Engkau kehendaki?” Atau: “Apa yang Engkau percakapkan dengan dia?”

Sementara itu perempuan tadi meninggalkan tempayannya di situ, lalu pergi ke kota dan berkata kepada orang-orang yang di situ.

Mari lihat! Di sana ada seorang yang mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat. Mungkinkah Dia itu Kristus?” Maka mereka pun meninggalkan kota, lalu datang kepada Yesus.

Sementara itu murid-murid mengajak Yesus, katanya, “Rabi, makanlah!” Akan tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Pada-Ku ada makanan yang tidak kamu kenal.”

Maka murid-murid itu berkata seorang kepada yang lain, “Adakah orang yang telah membawa sesuatu kepada-Nya untuk dimakan?”

Kata Yesus kepada mereka, “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Bukankah kamu mengatakan “Empat bulan lagi tibalah musim menuai?”

Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu, dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai.

Sekarang juga penuai telah menerima upahnya, dan ia mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal, sehingga penabur dan penuai sama-sama bersukacita.

Sebab dalam hal ini benarlah peribahasa ‘Yang seorang menabur dan yang lain menuai’. Aku mengutus kamu untuk menuai apa yang tidak kamu usahakan. Orang-orang lain berusaha, dan kamu datang memetik hasil usaha mereka.”

Banyak orang Samaria dari kota itu telah menjadi percaya kepada Yesus karena perkataan perempuan itu, yang bersaksi, “Ia mengatakan kepadaku segala sesuatu yang telah kuperbuat.”

Ketika orang-orang Samaria itu sampai kepada Yesus, mereka meminta kepada-Nya, supaya Yesus tinggal pada mereka, dan Yesus pun tinggal di situ dua hari lamanya.

Dan lebih banyak lagi orang yang menjadi percaya karena perkataan Yesus, dan mereka berkata kepada perempuan itu, “Kami percaya, tetapi bukan lagi karena apa yang kaukatakan, sebab kami sendiri telah mendengar Dia dan kami tahu, bahwa Dia benar-benar Juruselamat dunia.”

Demikianlah Sabda Tuhan.

U: Terpujilah Kristus.

Renungan Harian Katolik lainnya

Ikuti berita POS-KUPANG.COM di GOOGLE NEWS

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved