Renungan Harian Katolik

Renungan Harian Katolik Minggu 12 Maret 2023, Tuhan Meruntuhkan Tembok Prasangka

Renungan Harian Katolik berikut ditulis oleh RP. Steph Tupeng Witin SVD dengan judul Tuhan Meruntuhkan Tembok Prasangka.

Editor: Agustinus Sape
Foto Pribadi
RENUNGAN - RP. Steph Tupeng Witin SVD menyampaikan Renungan Harian Katolik untuk hari Minggu 12 Maret 2023 dengan judul Tuhan Meruntuhkan Tembok Prasangka. 

POS-KUPANG.COM - Renungan Harian Katolik berikut ditulis oleh RP. Steph Tupeng Witin SVD dengan judul Tuhan Meruntuhkan Tembok Prasangka.

RP. Steph Tupeng Witin  menulis Renungan Harian Katolik ini merujuk bacaan Injil Yohanes 4:5-42, Minggu Prapaska III.

Di akhir Renungan Harian Katolik ini disediakan pula teks lengkap bacaan Minggu 12 Maret 2023 beserta mazmur tanggapan dan bait pengantar Injil.

Yesus dan para murid-Nya sedang dalam perjalanan dari Yudea ke Galilea. Yesus berhenti dan duduk di dekat sumur Yakub di tengah padang gurun Yudea.  Yesus tidak bisa menimba air dari dalam sumur.

Sumur Yakub yang berada luar kota Sikhar, di mana peristiwa ini terjadi, berada di kawasan Samaria, pertengahan jalan antara Galilea di utara dan Yerusalem di selatan Israel. Sumur itu terletak sekitar 50 kilometer dari Yerusalem.

Pada tahun 722 Sebelum Masehi (SM), tentara Asyur menyerang Kerajaan Utara Israel dan mendeportasi banyak orang dari Samaria. Mereka membawa orang kafir dari berbagai negara ke Samaria.

Pada waktu itu, sebagian besar orang Yahudi yang menetap di sana, menikah dengan orang-orang dari negara-negara asing itu.

Dengan melakukan hal ini, mereka kehilangan kemurnian ras dan orang-orang Yahudi lain menganggap hal ini sebagai dosa, sehingga mereka memperlakukan orang Samaria sebagai orang buangan atau orang asing.

Pada tahun 596 SM Kerajaan Selatan diserang. Bait Allah hancur dan orang-orang Yahudi dideportasi ke Babylon.

Ketika diperbolehkan kembali ke Yerusalem, mereka mulai membangun kembali Bait Suci. Beberapa orang Yahudi Samaria yang setia menawarkan diri untuk membantu pembangunan kembali Bait Suci, namun ditolak.

Akibat penolakan ini, orang Samaria Yahudi mendirikan Kuil atau Bait Allah mereka sendiri di Gunung Gerizim, menghadap ke Sikhar dan sumur Yakub.

Baca juga: Renungan Harian Katolik Minggu 12 Maret 2023, Tuhan, Berilah Aku Air Itu Supaya Aku Tidak Haus Lagi

Hampir empat ratus tahun kemudian, pada tahun 129 SM, kuil di Gunung Gerizim dihancurkan oleh tentara Yahudi sehingga hubungan antara orang-orang Yahudi jauh dari baik (Rosis, 2017).

Di mata orang Yahudi, orang-orang Samaria adalah orang-orang kafir. Orang-orang Samaria mengangkat Yahweh sebagai Allah negara (2 Raj 17:25-28), tetapi mereka juga menghormati para dewa Asyur (2 Raj 17:29-34).

Ketika orang-orang Samaria ditolak oleh Nehemia (Ezr 4:2-3) dan dengan langkah-langkah kebijaksanaan politik keagamaan oleh Ezra, maka orang Yahudi dan orang Samaria semakin terasing satu sama lain.

Akhirnya orang Samaria dan orang Yahudi menjadi saling bermusuhan.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved