Berita NTT
Sekilas Sejarah Perayaan Cap Go Meh Bagi Orang Tionghoa
Konyan disemaraki oleh lampion (lantern)? Sampai-sampai hari ini diistilahkan pula sebagai "the Lantern festival
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Asti Dhema
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Tiada pesta yang tidak berakhir. Akhirnya, sampai juga ke hari ke-15 pada rangkaian perayaan Imlek atau Konyan.
Untuk merayakan dan menyemarakinya, in the ancient time, masyarakat akan menyalakan lampion dan menerbangkan nya ke udara / langit.
Sebelum lampion-lampion diterbangkan, orang-orang juga melakukan semacam kuis / tebak-tebakan mengenai puisi yang dituliskan di lampion.
Baca juga: Gerindra NTT Optimis Menangkan Pemilu 2024
Bagi yang bisa menebak dengan benar dan tepat, akan mendapatkan hadiah dari si pemilik lampion. Tradisi ini dapat dirunut ke belakang, ke era Dinasti Sòng pada tahun 960 – 1279 M.
Mengapa hari ke-15 pada rangkaian perayaan Konyan disemaraki oleh lampion (lantern)? Sampai-sampai hari ini diistilahkan pula sebagai "the Lantern festival"?
Ada versi mengenai aktivitas terkait dengan lampion. Ini dirunut ke belakang kepada eranya Hàncháo (202 SM – 220 M) alias Dinasti Hàn. Saat itu ajaran Buddhisme telah masuk ke Tiongkok.
Hàn Míngdì (15 Juni 28 M – 5 September 75 M) alias Kaisar Míng adalah sosok yang mendukung penuh ajaran Buddhisme. Kaisar Ming mendapat informasi bahwa para biksu memiliki kebiasaan untuk memasang lampion pada hari ke-15 Konyan.
Sehingga Ia pun mengeluarkan maklumat resmi yang isinya mewajibkan seluruh istana milik kekaisaran dan di kelenteng-kelenteng, serta rumah-rumah penduduk diseluruh wilayah kekuasaanya untuk menyalakan / memasang lampion. Dari sinilah kemudian timbul tradisi pasang lampion di hari ke-15 Konyan!
Baca juga: Hujan di NTT Imbas Bibit Siklon dan Sirkulasi Siklonik
Selain memasang lampion, orang-orang akan pula memasang yang dinamakan sebagai 孔明灯 (lampion kǒngmíng). Ini adalah hot air balloon yang kecil yang bisa terbang ke angkasa.
Biasanya sebelum diterbangkan, si pemasang akan menuliskan doa dan harapan baik masing-masing. Dengan begitu diyakini bahwa semua doa serta harapan baiknya akan sampai ke Langit (Sang Pencipta) dan terwujud / dikabulkan. Fenomena ini mirip seperti pada European folklore yang bernama wishing well.
Selama Dinasti Táng (618 – 690 M, 705 – 907 M), festival lampion sudah menjadi sebuah aktivitas perayaan yang sangat meriah, agung dan penting. Bahkan kemeriahannya tidak kalah dengan hari pertama Konyan.
Signature dish pada perayaan hari ke-15 Konyan ialah tang yuan alias yuan xião. Hidangan ini adalah hidangan yang must-eat (harus disantap). Pada masa lampau, bulan pertama pada kalender Imlek dinamai sebagai bulan atau yuan dan malam disebut xião.
Dari aspek-aspek diataslah mengapa hari ke-15 disebut pula sebagai yuán xiāo jié / festival yuán xiāo. Kalau di Indonesia diistilahkan sebagai Cap Go Meh (perayaan hari ke-15).
Terminologi ini karena pengaruh dialek suku Hokkian. Sedangkan kalau berdasarkan lafal dialek suku Hakka (Khek) ialah Cang Njiat Pan, yang artinya pertengahan bulan ke-satu.
Baca juga: Cuaca Maritim NTT 5 Februari 2023, BMKG: Waspada,2 Laut di NTT Berpotensi Gelombang Tinggi 4-6 Meter
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.