Berita Lembata Hari Ini

Masyarakat Desa Dikesare Lembata Gelar Ritual 'Lede Lewu', Tiga Malam Tak Boleh Nyalakan Lampu

kampung Lewolein, Desa Dikesare diselimuti kegelapan dan kesunyian. Tidak ada kebisingan. Tidak ada penerangan.

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Rosalina Woso
POS-KUPANG,COM/RICARDUS WAWO
Masyarakat desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, rela tinggal di kampungnya dalam kondisi gelap gulita tanpa secercah cahaya sama sekali selama tiga malam sejak Sabtu 19 Februari 2022. 

Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Ricko Wawo

POS-KUPANG.COM, LEWOLEBA - Masyarakat desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, rela tinggal di kampungnya dalam kondisi gelap gulita tanpa secercah cahaya sama sekali selama tiga malam sejak Sabtu, 19 Februari 2022.

Kondisi gelap gulita itu merupakan bagian dari ritual adat ‘Lede Lewu’.

Ritual adat yang digelar masyarakat adat Lewolein, Desa Dikesare, Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur menggelar itu merupakan ritual memanggil hujan dan mengusir sial, sepeti sakit penyakit dan roh jahat lainnya dari kampung.

Baca juga: ‘Kita Punya Modal Kebudayaan Untuk Bangun Lembata’

Satu-satu sumber cahaya yang kelihatan dalam kampung Lewolein, desa Dikesare, Sabtu atau malam Minggu, itu hanya cahaya lampu gardu listrik PLN.

“Gardu tidak bisa dimatikan, karena masyarakat juga butuh listrik untuk cas barang elektronik. Tapi televisi dan tape tidak boleh dinyalakan,” jelas Bartolomeus Bosi Paliwala, Lewonimun Tana Alap (tuan tanah/pemangku adat) Dikesare.

Menariknya, perokok pun tidak bisa leluasa menyalakan api untuk membakar rokok. Karena cahaya api dari pemantik atau korek api tidak boleh terlihat oleh orang lain. Begitu juga, cahaya api rokok. Tidak boleh dilihat orang lain.

Baca juga: Kisah Sukses Pengusaha Bidang Keamanan Asal Lembata, Wilem Lodjor: Satpam itu Pekerjaan Mulia!

Begitu juga bunyi-bunyian. Semua dalam keadaan hening.

Praktis sejak malam Minggu, hari Sabtu 19 Februari 2022, desa Dikesare dalam keadaan sunyi senyap dan gelap gulita. 

“Orang tidak boleh bicara besar-besar (suara tinggi) sampe terdengar di luar rumah,” jelas kepala desa Dikesare, Fransisko Raing alias Sisko Making.

Selama tiga malam itu pula, kampung Lewolein, Desa Dikesare diselimuti kegelapan dan kesunyian. Tidak ada kebisingan. Tidak ada penerangan.

Baca juga: Makna Ritual Tugul Gawak Untuk Pemkab Lembata: Kalau Rakyat Masih Lapar, Jangan Kau Kenyang Dulu

Semua warga dilarang menyalakan lampu di kampung ini. Aparat linmas menjaga ketat di semua pintu masuk kampung.

Selain menjamin ritual berjalan tanpa gangguan, juga menjamin kenyamanan kampung dari aksi pencurian.

Sebelum menggelar ritual Lede Lewu, Sabtu 19 Februari 2022 sekitar pukul 16.30 Wita, masyarakat adat Lewolein terlebih dahulu melakukan pembersihan sumur tua dan naga (jimat tahan hujan).

Baca juga: Mempersatukan Masyarakat Dengan Ritual ‘Tugul Gawak’ di Atadei Lembata

“Ada dukun yang bertugas mengambil naga (jimat hujan). Seringkali naga dipasang oleh nelayan dari luar yang mencari di perairan sini,” jelas Sisko Making.

Halaman
1234
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved